SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI ALI FARHAN

Selasa, 13 Oktober 2009

Konsep ”Ummah” dalam al-Quran

Konsep ”Ummah” dalam al-Quran

Studi Tafsir komparatif QS. 2:143, 213, 7:34, dan 45:28

oleh: Ali Farhan, Abdul Halim, Hikmah Ayu Reviani


Pendahuluan

Sangat menarik sekali ketika kita melihat sebuah fenomena dalam al-Quran secara mendalam. Di satu sisi, al-Quran menggunakan kata-kata yang bervarian dalam mengungkapkan sesuatu, di sisi lain al-Quran juga menggunakan satu ungkapan untuk menunjukkan hal-hal yang berbeda. Salah satunya adalah kata Ummah (أمّة) yang secara umum diartikan kelompok atau golongan manusia. Dalam al-Quran, ada beberapa kata yang hampir senada dengan kata Ummah, antara lain adalah al-ahl, qaum, millah, jamaah. Kata-kata tersebut kesemuanya mempunyai artian satu-kesatuan atau perkumpulan dari beberapa orang atau manusia.

Namun, dalam makalah yang sederhana ini, kami akan fokus membahas tentang ummat melalui kata dasarnya yakni Ummat (أمّة), itupun tetbatas pada empat ayat yang kami sebutkan dalam judul makalah. Dalam pembahasan ini, kami akan menilik komparasi berbagai hasil penafsiran ulama klasik maupun kontemporer tentang ayat ayat tersebut. Dan pada akhir pembahasan, kami akan memberikan catatan kecil sebagai hasil penelitian kami tentang konsep Ummat dalam al-Quran. Semoga bermanfaat dan Selamat membaca!

Pembahasan

  1. QS. Al-Baqarah ayat 143

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan demikian Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami tahu siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik kebelakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orag yang ttelah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.

a) Azbabun Nuzul

Ayat ini turun saat Nabi hijrah ke Madinah, pada saat itu beliau diperintahkan untuk menghadap baitul maqdis sebagaimana yang dilakukan orang yahudi, untuk melunakkan hati mereka. Nabi dan para sahabat saat itu shalat menghadap Baitul Maqdis selama kurang lebih enam-tujuh bulan kemudian menghadap ka’bah lagi sesuai dengan ayat berikutnya.[1]

b) Arti kata-kata

ü أمّة (Ummatun) : menuju, menumpu, dan meneladani.

ü شهداء (Syuhada’) : saksi, persaksian.

c) Penafsiran ayat

Makna yang terkandung dari ayat tersebut, dikarenakan khitabnya adalah Nabi Muhammad, maka kata Ummah di sini, kita fahami sementara sebagai ummat Muhammad. Kata (أمّة) ummatun terambil dari kata (أمّ-يؤمّ) yang berarti “menuju”, menumpu, dan meneladani. Dari akar kata yang sama lahir dari kata (أمّ) Umm yang berarti “ibu” dan (إمام) imam yang berarti “pemimpin” karena keduanya menjadi tumpuan, teladan, serta panutan.[2] Raghib al-Asfihani sebagaimana dikutip Quraish Shihab dalam tafsirnya mendefinisikan ummat sebagai “semua kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, seperti agama yang sama, waktu atau tempat yang sama, baik penghimpunannya secara terpaksa maupun atas kehendak mereka”. Sedangkan kata (وسطاً) wasatan diartikan “pilihan,” “adil,”[3] Jadi, kalau kedua kata itu digabungkan (أمّة وسطاً) ummatun wastun akan mempunyai arti golongan atau kelompok pilihan yang menjadi panutan dan tumpuan dalam segala hal. Hasbi ash-Shiddieqy dalam menjelaskan ayat ini mengatakan bahwa Allah telah menjadikan ummat Muhammad sebagai umat yang paling baik dan adil serta seimbang. Karena tidak berlebihan dalam beragama dan tidak pula termasuk golongan yang terlalu kurang menunaikan kewajiban.[4]

Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa manusia sebelum islam terbagi menjadi dua golongan, yakni golongan maddiyun (materialis), yang hanya mementingan kepentingan jasmani saja dan golongan ruhaniyyun (rohaniyah) yang terlalu berpegang pada adat-adat kejiwaan saja serta meninggalkan keduniaan. Islam datang untuk mempertemukan dua hak tersebut (baca: hak jiwa dan hak tubuh). Jadi, kita dituntutmeminjam bahasanya Quraysh Shihabuntuk tidak tenggelam dalam materialisme dan tidak juga membumbung tinggi dalam spiritualisme. Islam memberikan para muslim segala hak-hak kemanusiaan.

d) Catatan kritis

Dari pemaparan di atas, kami memberikan sedikit catatan kecil bahwa ummat wasatan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ummat yang moderat yang penuh dengan kesederhanaan dan keseimbangan dalam berbagai hal. Asumsi seperti ini diperkuat oleh sabda Nabi “khairul umuri ausatuha” bahwa sebaik-baik sesuatu adalah yang tidak berlebihan. Sehingga dengan demikian kita bisa menjadi umat teladan.

Penggalan ayat pertama pada ayat di atas merupakan sebuah pengantar dari keseluruhan ayat berikutnya. Karena pada ayat berikutnya Nabi dihadapkan pada sikap orang islam sendiri dan orang Yahudi mengenai masalah perpindahan kiblat. Ayat ini menegaskan betapa ummat Muhammadlah umat yang paling baik sehingga segala apa yang diajarkannya adalah mengandung kebaikan bagi manusia.

  1. QS. Al-Baqarah ayat 213

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kanar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka kitab yang mengandung kebenaran, untuk member keputusan diantara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan yang berselisih hanyalah orang-orang yang telah diberi (Kitab), setelah bukti-bukti yang nyata sampai kepada mereka, karena kedengkian diantara mereka sendiri. Maka dengan kehendak-Nya, Allah member petunjuk kepada mereka yang beriman tentang kebenaran yang mereka perselisihkan . Allah member petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki kejalan yang lurus.

a) Azbabun Nuzul

-

b) Arti kata-kata

ü بغياً : perbuatan keji

ü إختلف : berselisih, bertentangan, cekcok.

c)Penafsiran ayat

Menurut Hasbi As-Shiddiqy, ayat tersebut mengisyaratkan bahwa semua manusia pada mulanya se-iya sekata menganut kebenaran semenjak nabi Adam hingga nabi Nuh kemudian mereka berselisih.[5] Ummatan wahidah difahami bahwa pada hakikatnya manusia berada dalam satu jamaah di mana yang satu dengan yang lainnya mempunyai keterikatan dalam hal penghidupan, yakni: hidup berkumpul, saling tolong menolong, dan saling melengkapi satu sama lain. Namun karena kekurangan akal manusia dalam mengatur kehidupan bersama, mereka berselisih dalam memenuhi kebutuhannya. hal ini kata Hasbi as-Shiddieqy disebabkan oleh manusia berlain-lain fitrahnya dan tidak mendapatkan ilham yang dapat membimbing mereka pada kewajiban-kewajiban mereka. Ustadz Quraish Shihab menambahkan sebab perselisihan tersebut adalah sikap egoisme dalam diri manusia yang muncul sewaktu-waktu.[6] karenanya Allah mengutus para rasul untuk membawa kabar gembira dan peringatan.[7]

d) Pandangan filosofis

Penjelasan ayat di atas mengisyaratkan bahwa pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial (zoon politicon) yang tak dapat hidup sendiri-sendiri. Setiap orang pasti membutuhkan bantuan orang lain. Sehingga dengan demikian, mereka hidup berkelompok, bersuku dan berbangsa yang menyatu dalam satu-kesatuan yang utuh. Sementara seperti ini pemahaman penulis tentang ummatan wahidah yang ada dalam ayat tersebut. Adapun perselisihan yang terjadi disebabkan oleh sifat-sifat buruk manusia seperti serakah, iri hati, dan lain sebagainya.

  1. QS. Al-A’raf ayat 34

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya telah tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.

a) Azbabun Nuzul

b) Arti kata-kata

ü أجل : batas waktu, kematian, sampai/untuk waktu, untuk semetara

ü ساعة : masa, kiamat, waktu.

c) Penafsiran ayat

Ayat ini oleh sebagian ulama klasik difahami sebagai ancaman terhadap ahli Makkah karena mereka mendustakan Rasulullah. Kata ajal difahami sebagai batas waktu turunnya adzab yang akan datang pada waktu yang telah ditentukan Tuhan terhadap mereka yang ingkar terhadap Rasulullah.[8] Ada juga yang memahami bahwa ajal di sini adalah masa kejayaan atau keruntuhan suatu ummat. Namun ulama kemudian menghadirkan tafsiran yang lebih memasyarakat. Katakanlah Hasbi as-Shiddiqi, beliau memahami bahwa bagi tiap-tiap umat itu sudah ada jangka waktu yang telah ditentukan bagi hidupnya, yang ditakdirkan untuknya, Allah sendiri yang mengetahui. Pada akhir batas itu, dia berhenti.[9]

Lebih lanjut, ia mengemukakan bahwa ajal terbagi menjadi dua, yakni ajal tabi’ie dan ajal haqiqi. Ajal tabi’ie adalah waktu yang dijangkakan menurut tabiat atau kebiasaan, misalnya dalam hal medis, dokter mengatakan bahwa umur seseorang tidak akan lama lagi, maka ini dinamai ajal tabi’ie. Sedangkan ajal haqiqi adalah batas ketentuan bagi seseorang yang tidak diketahui seseorang pun kecuali Allah. Misalnya orang tiba-tiba mati mendadak, atau ditabrak mobil dan lain sebagainya.

d) Catatan ringan

Dalam memahami ayat serta penjelasan di atas, pemakalah tertarik pada apa yang diterangkan Ustadz Quraish, bahwa jauh sebelum ilmuwan sosial memperkenalkan adanya hukum-hukum kemasyarakatan serta factor-faktor kebangkitan dan keruntuhan suatu masyarakat, al-Quran melalui ayat ini dan sekian banyak ayat yang lain telah menjelaskan bahwa disamping ada ajal perorangan, ada juga ajal bagi masyarakat.

Suatu masyarakat apabila menganut system yang baik akan mencapai puncak kejayaanya, sebaliknya jika mereka hidup dalam system yang kacau, maka tunggulah kehancuran dan keruntuhan ummat itu, dan hal ini akan dirasakan oleh semua organ yang ada dalam suatu masyarakat tersebut.

  1. QS. Al-Jatsiyah ayat 28

وَتَرَى كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً كُلُّ أُمَّةٍ تُدْعَى إِلَى كِتَابِهَا الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan (pada hari itu) engkau akan melihat setiap umat berlutut. Setiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan.

a) Azbabun Nuzul

b) Arti kata-kata

ü جاثية : berlutut, berkumpul.

ü كتاب : Buku, kitab suci, catatan, surat, al-Quran.

c) Penafsiran ayat

Sebelum ayat ini, Allah menggambarkan terjadinya hari kiamat. Pada saat itu dikumpulkanlah para pelaku kebatilan. Maka kata (كلّ أمّة) kullu ummatin oleh sebagian kalangan dimaknai dengan ahli agama atau kepercayaan.[10] Sedangkan kata (جاثية) jatsiyah kebanyakan ulama mengartikannya berlutut. Namun sebagian memaknainya berkumpul atau dikumpulkan.[11] Kata (كتاب) kitab diartikan kitab suci yang turun kepada suatu ummat. Namun menurut hemat pemakalah, kata kitab di sini lebih tepat dimaknai dengan catatan amal perbuatan yang ditulis oleh Malaikat pencatat amal, Atid dan Roqib.

Jadi dapat dipahami bahwa semua penganut agama atau kepercayaan apapun, baik yang taat atau durhaka, yang bahagia ataupun yang celaka kelak pada hari kiamat akan dikumpulkan untuk menghadap Tuhan. Pada saat itu pula mereka akan diperlihatkan segala perbuatannya selama mereka di dunia dan dibalas sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.

d) Analisis ayat

Pesan yang disampaikan oleh ayat di atas adalah bahwa setiap amal perbuatan pastilah ada pertanggungan jawabannya. Nabi Saw. pernah bersabda

كلّكم راعٍ وكلّكم مسؤل عن راعيّته

Masing-masing kamu adalah pemimpin. Dan masing-masing akan dipertanyakan tentang yang ditanggung kepemimpinannya. Hadis di atas menjelaskan tentang tanggung jawab para pemimpin. Di mana ada pemimpin pasti ada yang dipimpin, dan dari kesatuan mereka terbentuklah apa yang kita sebut dengan ”ummah”. Jadi setiap tingkah laku sebuah ummat akan dipertanggung jawabkan nantinya di hadapan Tuhan.

Demikinalah segelintir kajian kami tentang konsep ummat dalam al-Quran. Meskipun tidak mewakili secara keseluruhan akan tetapi kami kira telah ada gambaran sekilas tentang apa yang dimaksud dengan ummah dalam al-Quran. Oleh karena itu, sanggahan, kritik dan saran yang membangun akan kami terima dengan keikhlasan hati demi sempurnamya makalah ini. Terima kasih atas perhatiannya.


Kesimpulan

Dari pembahasan di atas kami dapat mencatat beberap poin penting terkait dengan kajian ummah dalam al-Quran. Antara lain adalah:

1. Ummat Muhammad yang taat menjalankan perintah agama adalah ummat yang pailing baik dikarenakan ajaran-ajarannya sarat dengan kesederhanaan dan keseimbangan dalam berbagai hal. Sehingga menjadi panutan bagi umat yang lain.

2. Pada hakikatnya, semua manusia adalah satu umat. Allah menciptakan mereka sebagai makhluk sosial yang dapat hidup jika saling membantu sebagai satu ummat. Adapun perselisihan yang timbul disebabkan sifat-sifat buruk yang dimiliki manusia seperti dengki, iri hati, dendam dan lain sebagainya.

3. Suatu ummat jika menganut system kemasyarakatan yang baik akan mengalami masa kejayaan dan sebaliknya jika sistem kemasyarakatannya buruk maka akan menghadapi masa-masa keruntuhannya.

4. Setiap tingkah laku dan pola hidup ummat akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan kelak.


Daftar Pustaka

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya. Bandung: Penerbit Jumanatul Ali (J-ART) 2005

Jauhari, Ustadz Tantawi, Al-Jawahir fi tafsir al-Quran al-Karim, al-Mushtamil ala ‘ajaib badai al-mukawwanat wa gharaib al-ayat al-bahirat, Juz I & III. Kairo: Matba’ah Musthafa al-Babi al-Halabi, 1350 H.

Ash-Shiddieqy, T.M Hasbi, Tafsir Al-Quranul Madjid “AN-NUR”, Juz I dan 2. Djakarta: Bulan Bintang., 1965

Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah, lentera hati, Vol. 1, 5, 7, dan 13. Tangerang: Lentera hati., 2002

Assuyuti dan Almahalli, Jalaluddin. Tafsir al-Quranul adzim lil imamil jaliain. Surabaya: Darul Ilmi

Munawwir, Ahmad Warson, Al-Munawwir, Kamus Arab-Indonesia, Surabaya: Pustaka Progresif., 1997

Ash-Shiddieqy, T.M Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu al-Qur-an/Tafsir. Jakarta: Bulan Bintang., 1954



[1] Ustadz Tantawi Jauhari, Al-Jawahir fi tafsir al-Quran al-Karim, al-Mushtamil ala ‘ajaib badai al-mukawwanat wa gharaib al-ayat al-bahirat. (Kairo: Matba’ah Musthafa al-Babi al-Halabi) Juz I, hlmn 129

Lihat juga, Jalaluddin assuyuti dan almahalli, Tafsir al-Quranul adzim lil imamil jaliain, (Surabaya: Darul Ilmi). Hlmn. 20

[2] M. Qurash Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, kesan, dan keserasian al-Qur’an. (Tangerang: Lentera Hati) vol. 5, hlmn 80

[3] Ustadz Tantawi Jauhari, Al-Jawahir fi tafsir al-Quran al-Karim, al-Mushtamil ala ‘ajaib badai al-mukawwanat wa gharaib al-ayat al-bahirat. (Kairo: Matba’ah Musthafa al-Babi al-Halabi) Juz I, hlmn 129

[4] TM. Hasbi ash-Shiddieqy, tafsir al-QuranulMadjiied “AN-NUR”, Jilid I, Juz II (Jakarta: bulan Bintang) Hlmn. 7

[5] TM. Hasbi ash-Shiddieqy, tafsir al-QuranulMadjiied “AN-NUR”, Jilid I, Juz II (Jakarta: bulan Bintang) Hlmn. 162

[6] M. Qurash Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, kesan, dan keserasian al-Qur’an. (Tangerang: Lentera Hati) vol. I, hlmn 454

[7] 162 TM. Hasbi ash-Shiddieqy, tafsir al-QuranulMadjiied “AN-NUR”, Jilid I, Juz II, (Jakarta: bulan Bintang) Hlmn 162.

[8] Ustadz Tantawi Jauhari, Al-Jawahir fi tafsir al-Quran al-Karim, al-Mushtamil ala ‘ajaib badai al-mukawwanat wa gharaib al-ayat al-bahirat. (Kairo: Matba’ah Musthafa al-Babi al-Halabi) Juz III, hlmn 151

[9] TM. Hasbi ash-Shiddieqy, tafsir al-QuranulMadjiied “AN-NUR”, Jilid III, (Jakarta: bulan Bintang) Hlmn 118.

[10] Jalaluddin assuyuti dan almahalli, Tafsir al-Quranul adzim lil imamil jaliain, Juz II, (Surabaya: Darul Ilmi). Hlmn. 172

[11] Ibid. Hlmn. 172

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya

Selamat datang..

Selamat datang..