SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI ALI FARHAN

Selasa, 29 Desember 2009

JAHIM, JANNAH, JAZA’, JU’, DAN JIN
“Studi Ma’anil Qur’an”

Oleh.
Mumt@z, Kh@lis, Mil@, dan Farh@n

I. Pendahuluan

"Apabila anda membaca al Quran, maknanya akan jelas dihadapan anda. Tetapi bila anda membacanya sekali lagi, akan anda temukan makna-makna lain yang berbeda dengan makan makna sebelumnya. Demikian seterusnya, sampai-sampai anda menemukan kalimat atau kata yang menpunyai arti bermacam-macam, semuanya benar atau mungki benar. Ayat-ayat al Quran bagaikan intan; setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudut-sudut lain. Dan tidak mustahil anda mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebuh banyak ketimbang apa yang anda lihat"

Al Quran sebagai kitab pedoman bagi umat Islam memiliki bayak keunikan, salah satunya adalah dari sisi kebahasaan. Bahasa Arab yang menjadi bahasa pengantar al Quran sudah tidak diragukan lagi mukjizat kebahsaannya. Berapa banyak kitab tafsir yang muncul dari sejak awal kehadirannya hingga saat ini, terutama dari sisi linguistik. Kosa kata yang terdapat di dalam al Quran sangat banyak jumlahnya dan sangat beragam maknanya. Diantara sekian banyak kata ada kata Jahim, Jannah, Jaza’, Ju’, dan Jin (5J).
Di dalam makalah sederhana ini, akan disnggung pengertian dari masing-masing kosa-kata yang disebutkan di atas. Jahim secara umum berarti panas api. Biasanya kata ini sering dikaitkan dengan api neraka dan siksa Tuhan. Jannah adalah surga, tempat yang dijanjikan bagi mereka yang patuh dan taat pada perintahnya. Ini adalah tempat yang diharapkan oleh banyak orang. Lawan dari al jannah (surga) adalah al nar (neraka). Jaza’ adalah balasan yang bermanfaat dan cukup memamadai. Kita sering mendengar ucapan orang mengatakan, “jazakumullahu khairan” yang artinya semoga Allah memberi balsan lebaikan padamu. Selanjutnya adalah kata ju’. Kata ini berarti lapar atau rasa sakit dikarenakan kekosongan perut/lambung. Seringkali lapar ini menjadi problem yang sangat serius bagi seseorang. Bisa saja lapar akan menghambat seseorang dalam belajar dengan serius. Dan terakhir adalah kata jin. Term ini sering diartikan dengan hantu, atau makhluk halus tang tidak tampak dan tersembunyi oleh pandangan manusia.
Tentunya makalah ini bukanlah kajian yang komprehensif dan memadai. Karena kajian ini lebih bersifat pengantar. Harapannya, tulisan ini dapat menjadi pijakan awal untuk lebih mendalami kosa-kata yang kami sebutkan di atas. Semoga...


II. 5J (Jahim, Jannah, Jaza’, Ju’, dan Jin)

Pada bagian ini akan dijelskan secara ringkas kata-kata jahim, jannah, jaza’, dan jin beserta beberapa ayat yang berbicara tentangnya. Berikut penjelsannya:

1. Jahim

Kata Jahim berasal dari kata Jahama jahmatan berarti puncak panasnya api. Jahama yajhumu juga berarti puncak kemarahan, dikiaskan dengan puncak panasnya api karena hal itu mencerminkan panasnya hati yang meluap-luap. Bila jahamat al-asadu ‘ainuhu (singa itu melotot matanya), disebut dengan jahamat karena matanya bersinar terang.
Di dalam al-Qur’an, jahim merupakan salah satu nama untuk nar (neraka). Kata Jahim ini disebut 26 kali pada 18 surat. Di samping kata-kata ini masih terdapat nama-nama lain untuk neraka, yaitu jahannam = sesuatu yang sangat dalam, hawiyah (jurang), sa’ir (api yang menyala), saqar = terik yang menghanguskan, ladza (nyala api), dan huthamah (sesuatu yang mematahkan). Oleh sebagian ulama’, nama-nama neraka itu dianggap sebagai petunjuk adanya bermacam-macam tingkatan (lapisan) neraka.
Di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa jahim dinyalakan pada hari kiamat (QS. Al-Takwir :12) dan ketika itu juga diperlihatkan kepada manusia (qs. Al-Nazi’at:36). Orang yang beriman (QS. Al-Mukmin :7) dan orang yang bertaqwa (QS. Al-Dukhan: 51-56, dan al-Thur: 17-18) akan terbebas dari siksa jahim ini.
Adapun orang-orang yang akan masuk neraka jahim ini adalah (1) orang musyrik (QS. Al-Taubah: 113, QS. Al-Syu’ara’: 23, serta QS. Al-Shaffat: 97 dan 163); (2) orang kafir (QS. Al-Maidah : 10 dan 86, al-Muthaffifin : 10 dan 13, serta al-Hadid 190); (3) orang yang mendustakan ayat-ayat Tuhan (al-Maidah : 10 dan 86, al-Muthaffifin : 10 dan 13, serta al-Hadid : 19); (4) orang yang berusaha menentang ayat-ayat Tuhan dengan melemahkan kemauan seseorang untuk beriman (QS.al-Hajj : 51); (5) orang yang sesat al-Syu’ara’ : 91); (6) orang yang meragukan datangnya Hari kiamat (al-Shaffat :52-55 dan al-Infithar : 11); (7) orang dzalim (al-Shaffat : 63-64); (8) orang yang taklid di dalam kemusyrikan kepada orang tua yang sesat (al-Shaffat : 68-70); (9) orang yang banyak berbuat dosa (al-Dukhan : 43-47); (10) orang yang mendapatkan kitabnya di Akherat dari sebelah kiri 9al-Haqqah : 25-31); (11) orang yang melampaui batas, lagi lebih mengutamakan kehidupan dunia (al-Nazi’at : 37 dan 39); (12) orang yang durhaka (al-Infithar : 14 dan al-Muthaffifin : 7); serta (13) orang yang lalai karena bermegah-megah. Nabi Muhammad Saw. tidak akan diminta untuk mempertanggungjawabkan sikap dan perbuatan penghuni Jahannam itu (al-Baqarah : 19) dan Allah melarang beliau mendoakan orang musyrik khususnya dan penduduk jahim umumnya (al-Taubah : 113).

2. Jannah

Lafal Jannah berasal dari kata janna yaitu bentuk fiil madhi. Hal ini di dalam al-Qur’an hanya disebut satu kali yaitu pada QS. Al-An’am : 76. Di dalam bentuk-bentuk lainnya, kata itu disebut sebanyak 221 kali; misalnya di dalam bentu jaann جان) ( sebanyak tujuh kali seperti di dalam QS. Al-Hijr: 27, di dalam bentuk al-Jinn الجن) ) 22 kali seperti didalam Qs al-an’am : 100, di dalam bentuk jinnah جنة)) 10 kali seperti di dalam QS. Al-A’raf :184, di dalam bentuk majnun (مجنون) 11 kali seperti di dalam QS. aL-Hijr: 6, dan di dalam bentuk Jannah dengan segala bentuk tatsniah dan jamaknya 161 kali seperti di dalam QS. Al-Baqarah : 35.
Kata Janna yang berasal dari janana pada asalnya berarti tertututp, yaitu tidak dapat dapat dijangkau oleh panca indera manusia. Dari akar kata inilah definisinya berkembang sejlan dengaan konteks pemakaiannya sehingga terbentuk bebagaia kata lain. Misalnya kata janin diartikan dengan bayi yang masih berada di dalam kandungan ibunya. Salah satu makhluk halus ciptaan disebut jin karena hakikat dan dan wujudnya tidak dapat diketahui oleh indera manusia. Seorang yang gila disebut majnun karena akalnya tertutup. Kebun yang dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhhan sehingga menutupi pandangan manusia dinamai jannah; kata ini juga diartikan dengan surga karena hakikat surga tertutup dari pengetahuan indera dan akal manusia, atau karena di sana terdapat hal-hal yang oleh Nabi Saw. Diketahui sebagai tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terjangkau oleh akal pikiran manusia.
Ayat-ayat yang menyebut kata jannah dengan segala bentuknya itu memberi keterangan bahwa al-Qur’an menggunakan kata tersebut untuk arti-arti sebagai berikut:
  • Gelap, tidak ada cahaya disebabkan matahari telah terbenam dan malampun tiba (al-An’am : 76);
  • Surga, tempat orang-orang yang beriman dan beramal shaleh kelak di Hari kemudian (al-Nisa’ : 124);
  • Janin, yaitu bayi yang masih berada di dalam kandungan (al-Najm : 32);
  • perisai yang dapat digunakan untuk melindungi diri dari senjata musuh atau untuk memperkuat ucapan-ucapan bohong agar orang lain mempercayainya (al-Mujadalah : 16);
  • Gila, akit jiwa, rusak ingatan, atau tertutup akal seperti yang sering dituduhkan Fir’aun kepada Nabi Musa (al-Syu’ara’ : 27) atau kata-kata yang diucapkan orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad (al-Hijr : 6);
  • Kebun yang ditumbuhi oleh tanaman-tanaman yang subur dan menghasilkan buah-buahan yang lezat serta membawa kemakmuran suatu negeri (Saba’ : 15) atau ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang buahnya pahit (saba’ : 16);
  • Jin, yaitu makhluk halus yang berakal ciptaan tuhan; mereka menerima syari’at sebagaimana syari’at yang diterima umat Nabi Muhammad saw. (al-dzariyat : 56).

3. Jaza’

Kata jaza merupakan kata dasar dari jaza-yajzi –jaza’. Kata jaza dalam berbagai bentuknya di sebut 116 kali, tersebar dib dalam 47 surah dan 109 ayat. Menurut al-Asfahani di dalam kitab mu’jam-nya, kata jaza’ berarti suatu balasan yang bermanfaat, cukup memadai, atau pantas (al-ghina’ wal-kifayah = الغناء والكفياية). Kata jaza’ yang diartikan dengan al-kifayah bukan mukafa’ah ( مكافأة = senilai atau seimbang), hannya meberikan batasan maksimal. Dengan demikian apabila satu di balas dengan satu, sudah dapat di katakan sebagai balasan yang cukup, memadai, atau pantas. Apabila satu di balas dengan dua atau lebih, tidak akan menyalahi/ merusak pengertian jaza’ sebagai balasan yang cukup, memadai, atau pantas. Oleh karena itu, apabila kata jaza’ di sebut tanpa menyertakan keterangan apa-apa sesudahnya, baik kata maupun indikasi, kata jaza’ tersebut mengandung arti balasan yang setidak-tidaknya seimbang dengan apa yang di lakukan oleh (al-amal = العمل) yang menyebabkan dia berhak menerima jika balasan di maksud berupa sesuatu yang menyenagkan, atau wajib menanggungnya jika balasan tersebut berupa sesuatu yang tidak menyenangkan. Itulah sebabnya, ketika Allah SWT menjelaskan bahwa balasan atas satu kejahatan seimbang dengan kejahatan yang di lakukan, Allah swt memberikan keterangan yang mengikuti kata jaza’ yang dimaksudkan sebagai tersebut di dalam firman Allah swt di dalam QS. Asy-Syura [42]: 40 yang berbunyi, wa jaza’u sayyiatin mitsluha (وجزؤا سيئة سيئة مثلها = dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa). Seandainya tidak ada kata mitsluha pada ayat tersebut tentunya kita boleh saja beranggapan bahwa mugkin saja Allah swt. Akan membalas kejahatan dengan berlipat ganda sebagaimana Allah swt membalas kebaikan dengan berlipat ganda.
Kata jaza’ mencakup balasan baik dan balasan (ganjaran) buruk. Diantara 116 kata jaza’ di dalam al-qur’an terdapat 42 kali yang berarti balasan buruk , dan 25 kali berarti balasan yang umum atau netral (tanpa menyebutkan baik atau buruk). Dengan perkataan lain, iman, syukur, dan amal shaleh akan dibalas Allah dengan balasan kebaikan minimal 10 kali lipat, khususnya di akhirat. Sedangkan kekufuran, kejahatan, kezaliman dan berbagai kemungkaran lainnya akan dibalas Allah berdasarkan berat dan bobotnya masing-masing seperti yang dijelaskan dalam surat ke 6 : 160.

Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).

Kata jaza’, di dalam berbagai bentuknya, umumnya berkaitan dengan balasan Allah swt di akhirat, kecuali:
1) QS. Al-Baqarah [2]:85 tentang balasan yang berupa kenistaan hidup di dunia bagi balasan Bani Israil;

Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat

2) QS. Al-Ma’idah [5]:33 tentang hukuman bagi pelaku tindak pidana (hirabah = حرابة ) dan ayat 95 tentang hukuman bagi orang yang membunuh binatang buruan sedang dia dalam keadaan ihram;

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal bakhil, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.

3) QS. Yusuf [12]: 22 dan 25 tentang hikmah yang di berikan Allah swt kepada nabi yusuf as sebagai balasan atas kebaikan-kebaikan yang dimiliknya dan hukuman yang di usulkan oleh Zulaikha atas diri Nabi Yusuf as;
QS. Yusuf, ayat 22:

Dan tatkala dia cukup dewasa kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

QS. Yusuf, ayat 25:

Yusuf berkata: "Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)", dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, Maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.

4) QS. Al-Qashas [28]: 25 tentang imbalan berupa penghargaan dari nabi Syuaib as kepada Nabi Musa as; serta

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. kamu Telah selamat dari orang-orang yang zalim itu".

5) QS. Asshafat [37]: 80, 105, 110, 121, dan 131 tentang imbalan berupa keselamatan dan kesejahteraan yang di limpahkan oleh Allah swt kepada nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, dan ilyas as.
QS. Asshafat, ayat 80

Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

QS. Asshafat, ayat 105

Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu Sesungguhnya Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

QS. Asshafat, ayat 110

Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Sesuai dengan makna aslinya, yeitu al-ghina’ wa al-kifayah (manfaat dan balasan yang cukup, memadai, dan pantas) merupakan suatu pilihan yang cerdas menamai suatu pembalasan dengan jaza’.
Di ketahui bahwa setiap pembalasan –baik atau buruk- pasti akan membawa manfaat bagi berbagai pihak. Balasan akan bermanfaat sebagai perangsang atau bagi orang untuk melakukan suatu kebaikan, sedangkan balasan buruk bermanfaat untuk menghalangi orang melakukan tindak kejahatan.
Kata jaza’ tidak hannya muncul di dalam konteks hubungan di antara manusia dan Allah swt (QS. Ali Imran [3]: 144) tetapi juga di dalam konteks hubungan antar manusia. Seperti firman Allah swt. Surat QS. Al-Insan: 9

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

4. Ju’

Al-Raghib al-Asfahani mendefinisikan Juu’ dengan rasa sakit yang dimiliki hewan karena kosongnya lambung dari makanan. Kata Ju’ berasal dari kata Jaa’a Juu’an yang berarti kelaparan. Kata Juu’ juga berarti lapar yang amat. Seperti: رجل جائع وجوعان (seorang laki-laki yang amat lapar).
Di dalam al-Qur’an kata Juu’ disebut 4 kali dalam surat-surat yang berbeda-beda yaitu (al-Baqarah : 155, al-Nahl : 112, al-Ghasyiyah : 7, dan Quraisy : 4). Lafal Juu’ hanya disebut sekali dalam fi’il Mudhari’ yaitu pada QS. Thaha : 118. Sedangkan dalam bentuk fi’il madhi tidak ada.
Sudah tertera diatas bahwasanya kata juu’ disebutkan 4 kali dalam al-Qur’an, yang penulis ambil ke empat makna dari apa yang disebutkan diatas adalah menegaskan adanya suatu kenikmatan sesudah lapar dan suatu cobaan atas suatu perbuatan. Seperti halnya rasa lapar yang didalamnya mempunyai potensi cobaan bagi orang yang mengalaminya akan tetapi harus diingat bahwasanya hidup didunia penuh dengan cobaan. Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbahnya menyebutkan bahwa lapar bukanlah hal buruk. Dengan rasa lapar semua bentuk makanan akan menjadi lezat bila dimakan. Dalam kejadian letih, dengan kasur bahkan tanpa kasur pun tidur akan menjadi nikmat. Ini tentu jika manusia mau menyadarinya.
Kata juu’ dalam QS. Quraisy: 4 yang berbunyi من جوع difahami oleh sementara ulama dalam arti sesudah, banyak juga yang memahaminya dalam arti disebabkan karena yakni Allah swt menganugerahkan kepada mereka (manusia) nikmat dan memberi mereka makan untuk menghilangkan rasa lapar mereka.
Tidak banyak pembahasan yang menarik tentang juu’ dalam al-Qur’an yang penulis dapatkan, akan tetapi inti dari apa yang dipaparkan diatas adalah seputar mensyukuri kenikmat yang diberikan oleh Allah swt. Rasa lapar adalah bentuk ujian yang diberikan Allah sedikit dibandingkan kenikmatan yang diberikan olehnya. Allah menyampaikan ujian ini agar manusia siap menghadapinya sehingga dia membiasakan diri tidak makan kecuali lapar dan berhenti sebelum kenyang.
Dalam QS. Thaha: 118 menerangkan adanya kenikmatan di surga untuk orang-orang yang mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Dapat dicontohkan seperti ibadah puasa yang mendapatkan pahala karena menahan lapar dan dahaga ketika terbit matahari sampai datangnya maghrib. Suatu pahala akan menghampiri orang yang melaksanakan ibadah puasa jika didasari keikhlasan karena Allah swt.
Selain itu, hikmah yang dapat diambil terkait juu’ dalam al-Qur’an tersebut adalah upaya menahan nafsu terhadap segala sesuatu yang menjadikan kemadhorotan, termasuk berlebih-lebihan terhadap suatu hal. Jika manusia kurang mensyukuri apa yang Allah berikan, maka Allah akan memberikan cobaan kepada hambanya dan sebaliknya jika manusia mematuhi apa yang diperintahkan Allah, maka akan mendapatkan suatu kenikmatan disurga maupun di akhirat.

5. Jin

Kata jin terambil dari kata janana yang berarti tersembunyi atau tertutup atau tak terlihat. Dinamai demikian karena ia adalah makhluk halus yang tidak dapat dilihat dengan mata. Anak yang masih dalam kandungan dinamai janin karena dia tidak kelihatan. Surga demikian juga hutan yang lebat, dinamai jannah karena pandangan tidak dapat menembusnya. Majnun adalah orang gila/yang tertutup akalnya. Pada umumnya umat muslim memahami jin sebagai makhluk halus (ghaib) yang bersifat hawa (udara) atau api, berakal, mukallaf, dapat berbentuk dengan berbagai bentuk dan mempunyai kemampuan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan berat.
Sayyid sabiq mendefinisikan jin sebagai sejenis ruh berakal, berkehendak, mukallaf (dibebani tugas keagamaan oleh Allah, seperti halnya manusia) tetapi tidak berbentuk materi -kasar sebagaimana yang dimiliki manusia- yakni luput dari jangkauan indra, atau tidak dapat terlihat sebagaimana keadaannya yang sebenarnya atau bentuk yang sesungguhnya dan mereka mempunyai kemampuan tampil dalam berbagai bentuk.
Bint al Syathi, seorang ulama dan cendikiawan wanita kontemporer Mesir, memiliki definisi yang berbeda. Ia memilki pandangan yang lebih luas dan bebas. Ia mengatakan bahwa melihat kebiasaan al Quran memperhadapkan penyebutan jin dan ins (manusia), maka ia memahami bahwa kata jin sebagai makhluk yang dapat mencakup semua jenis makhluk yang hidup di alam-alam yang tidak terlihat atau tidak terjangkau dan yang berada di luar batas alam tempat manusia hidup serta tidak terikat pula dengan hukum-hukum lam yang mengatur kehidupan manusia. Pun demikian Muhammad Abduh, ia menganggap bahwa virus dan kuman-kuman boleh jadi juga adalah salah satu jenis jin.
Terdapat banyak ayat yang berbicara tentang jin dengan berbagai macam bentuknya. Disini akan disebutkan sebagian kecil saja berikut makna yang dikandungnya.
- Bahwa Jin adalah makhluk Allah (buthlanu ilahiyyatihim), QS al An’am/6: 100:

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, Padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): "Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan", tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan[495]. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.

- Jin adalah makhluk yang mukallaf, QS al A’raf/7: 38:

Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), Dia mengutuk kawannya (menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: "Ya Tuhan Kami, mereka telah menyesatkan Kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman: "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak Mengetahui".


- Jin diciptakan dari api, QS al A’raf/7: 12;

Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.


III. Penutupan

Dari apa yang penulis sampaikan mengenai ragam kosa kata dalam al-qur’an yakni kata Jahim, Jannah, Jaza’, Ju’, dan Jin dapat dipahami bahwa setiap kata yang terdapat dalam al Quran itu memiliki makna yang beragam, begitu juga makna kata Jahim, Jannah, Jaza’, Ju’, dan Jin. Dan tentunya setiap makna yang beragam itu memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Terkhir, sebagai penutup dari tulisan ini, semoga diskusi kita hari ini dapat membuka cakrawala keilmuan dalam memahami al Quran secara komprehensif dan tepat. Dan dapat melanjutkan kajian ini dalam bentuk yang lebih serius bahkan tidak menutup kemungkinan sebagai sebuah karya tulis yang dapat dinukmati oleh orang lain. Semoga...!! wallahu a’lam bi al shawab.


Daftar Pustaka
  1. Al-Ashfani, Al-Raghib, Mu’jam Mufradaatu al-Faadzilqur’aani.
  2. Fuad Abdul Baqi, Muh., al-Mu’jam al-Mufahras li al-Faadzi lqur’anil karim, (Beirut : Dar al-Fikri, 1981).
  3. Munawwir, A.W. Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya : Pustaka Progressif, 1997)
  4. Shihab, Quraish. Tafsir al-Misbah jilid (Jakarta: Lentera Hati, 2000)
  5. Shihab, Quraisy, DKK, Ensiklopedia Al-Qur’an Kajian kosa kata, jilid I (jakarta, Lentera Hati, 2007)
  6. Zain, Muhammad Subban Rusydi. Mu’jam al Mufahras li Ma’an al Quran. Beirut: Dar al Fikr al Mu’ashir: 1995

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya

Selamat datang..

Selamat datang..