SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI ALI FARHAN

Sabtu, 26 Desember 2009

TEORI DENOTASI DAN KONOTASI
{study komparatif makna ayat-ayat al-qur’an}
oleh. Ali Farhan UIN yogya



Pendahuluan

Kajian makna kata dalam bahasa tertentu menurut sistem penggolongan semantik adalah cabang linguistik yang bertugas semata-mata untuk meneliti makna kata, bagaimana asal mulanya, bahkan bagaimana perkembangannya, dan apa sebab-sebanya terjadi perubahan makna dalam sejarah bahasa.
Disini penulis mencoba sedikit mengkaji makna kata dengan menggunakan teori konotasi dan denotasi dengan harapan membuka cakrawala keilmuan kita dan mengembangkan pemahaman kita tentang makna-makna yang tersirat dalam ayat-ayat Al-Qur’an

Pembahasan

Roland Barthes tentang Teori Konotasi Dan Denotasi.
Roland Barthes adalah seorang tokoh semiotika penganut madzhab Strukturalisnya Saussure, jadi tidak jauh berbeda dengan konsep Strukturalis ala Saussure yang tetap menganggap bahwa dalam tanda linguistik terdapat dua sisi yang saling berhubungan, yaitu penanda yang diistilahkan oleh Barthes dengan Expression, dan petanda yang diistilahkan dengan Content, kemudian keduanya terjadi Relasi (hubungan) yang menimbulkan makna Denotasi atau makna sebenarnya. Kesatuan expression yang berhubungan dengan content yang kemudian menimbulkan makna denotasi disebut sebagai sistem I, sedangkan dari sistem I ini kemudian berhubungan dengan content kedua yang akhirnya memunculkan makna Konotasi atau makna tidak sebenarnya. Dan kesatuan proses tadi sampai timbulnya makna konotasi kemudian disebut sitem II. Makna konotasi yang terus menerus akan menjadi Mitos, dan mitos yang terus-menerus akan menjadi Ideologi.
Ketika saussure hanya berhenti sampai pada hubungan penanda dan petanda, maka Barthes meneruskan konsentrasinya pada makna konotasi yang timbul dari hubungan antara kedua tanda linguistik tersebut. Jika content berubah-ubah dari expresi yang tunggal, maka content-content tersebut dinamakan dengan makna Konotasi, sedangkan jika content-nya tetap dan expresinya yang berubah-ubah, maka itu dinamakan dengan Metabahasa.
Ayat 60 dari surat Al-Anfal mencoba meninjau makna konotasi dan denotasi. Ayat itu berbunyi :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, dan musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Teori ini jika kita terapkan pada ayat diatas adalah, tidak begitu jauh berbeda dengan konsep penanda dan petanda ala Saussure . Seperti yang ada pada lafadz ترهبون ini berposisi menjadi penanda yang dalam bahasa Barthes adalah expression atau ucapan, sedangkan petanda yang berupa konsep yang dalam bahasa Barthes adalah content atau isi adalah konsep tentang “menakut-nakuti”. Adanya hubungan antara expresi dan content kemudian memunculkan makna denotasi yaitu makna menakut-nakuti yang sesungguhnya.
Dari makna denotasi tersebut, maka muncullah makna konotasi dari ترهبون yang bisa berupa menakut-nakuti dengan teror statement, menakut-nakuti dengan pelecehan, menakut-nakuti dengan ancaman, menakut-nakuti dengan penyerangan atau bahkan menakut-nakuti dengan tindakan pengeboman. Maka semua itu dinamakan makna konotasi. Dan jika content-nya tetap yaitu konsep tentang “menakut-nakuti”, akan tetapi expresinya berbeda-beda, seperti kata menghujat, mengancam, menghardik, meneror, menyerang, atau mengebom, maka hal tersebut dinamakan metabahasa.
Dari beberapa tokoh semiotik, kiranya memang Roland Barthes-lah yang terlihat lengkap dalam mengungkapkan apa yang terpancar dari proses pemikiriran tentang suatu petanda dibanding tokoh-tokoh lainnya seperti Saussure yang terkesan hanya memberikan metode dengan menggambarkan tentang keterkaitan antara tiga unsur dalam proses pemikiran dan Pierce yang justru menggambarkan tentang keterkaitan hasil suatu interpretasi dengan interpreter selanjutnya dan iluminasi-iluminasi seterusnya. Oleh karena itulah penulis di sini berusaha ingin mencontohkan lebih dalam tentang teori yang dikembangkan oleh Roland Barthes tersebut.

1. Denotasi

Dari beberapa pemikirannya yang pertama adalah ia mengungkapkan bahwa suatu kata menunjukkan adanya satu artian kata sebagai maksudnya. Hal ini disebut dengan makna denotasi. Menurut hemat penulis kalau dalam al-Qur’an pengambilan makna seperti ini lebih cocok bila digunakan pada kalimat isim atau kata benda, lebih-lebih pada cerita-cerita masa lalu baik yang telah terbukti maupun belum sebagai penggambaran atau tamsil bagi pembacanya. Suatu contoh dari makna ini tergambar pada lafadz الفيل dari surat al-Fiil: 1,

“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu Telah bertindak terhadap tentara bergajah “

Lafadz al-fil pada ayat di atas memang menunjukkan arti yang sebenarnya, yaitu gajah yang mana ayat tersebut menceritakan pasukan gajah saat-saat penyerbuannya ke kota makkah. Selain itu ada contoh lainnya yaitu lafadz السّماوات dan الارض pada surat Ibrahim: 19,
“Tidakkah kamu lihat bagaimana Allah telah menciptakan langit dan bumi, apabila Ia berkehendak, Ia menghilangkan kalian dan mendatangkan nya dengan makhluk (ciptaan) baru”.

Lafadz السّماوات dan الارض pada ayat diatas berarti langit dan bumi sebagai bentuk perumpamaan bagi manusia ataupun pembacanya.

2. Konotasi

Yang dimaksud dengan ungkapan ini adalah suatu lafadz tertentu mempunyai beberapa artian kata. Pada penafsiran ini konten makna lebih luas dari pada ekspresi atau penandanya, seperti penafsiran pada lafadz عمي yang terdiri dari tiga huruf pokok ع- م – ي .
Adakalanya lafadz tersebut berarti tidak bisa melihat karena gelapnya hari dan tidak adanya pelita. Hal tersebut digambarkan pada surat al-Baqarah: 18,

“Tuli (tak bisa mendengar), bisu (tak berkata), buta (tak bisa melihat)”

Adakalanya juga menunjukkan arti orang yang buta hatinya meskipun tidak buta matanya, seperti terdapat pada surat Yunus: 43,

“Sebagian dari mereka merupakan orang yang memperhatikanmu, apakah engkau mampu memberikan petunjuk meskipun mereka tidak memperhatikanmu”.

Ada juga yang menunjukkan bahwa lafadz tersebut merupakan panggilan untuk orang tersesat yang tidak mengakui bahwa al-qur’an itu suatu yang haq, seperti pada surat Ra’d: 19
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”

Adakalanya menunjukkan arti orang yang buta matanya, seperti terdapat pada surat al-An’am: 50,

“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"

dan juga ‘Abasa: 2,

“Karena Telah datang seorang buta kepadanya”

3. Metabahasa

Suatu kata selain bermakna konotasi terkadang juga memberikan ekspresi yang lebih luas dari pada kontennya, yang disebut dengan meta bahasa. Suatu contohnya terdapat dalam surat al-Nisa’: 87,
Yang dimaksud lafadz حديثاً di atas adalah berita atau perkataan yang mana hal tersebut bisa juga menggunakan lafadz lainnya yaitu قيلاً , yang terdapat pada al-Nisa’: 122,
dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada allah

Contoh dari meta bahasa selanjutnya yaitu lafadz سبيلا yang sama maksudnya dengan طريقا, contoh ini terdapat dalam surat al-Nisa’,
........memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.(An-nisa’137)

.........akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka (An-nisa’168)


Penutup

Dari sedikit diskusi diatas, dengan melihat corak penafsiran menggunakan pendekatan semiotic menurut teori tiga tokoh semiotika terkemuka, yaitu Charles Peirce, Ferdinand de saussure, dan Roland Barthes, dapat kita ketahui bahwa perbedaan penafsiran yang ada adalah perbedaan persepsi yang dimilki oleh masing-masing penafsir dalam memahami tanda ataupun teks yang ada, sehingga memunculkan keberagaman pemahaman yang timbul.
Sebagaimana yang penulis terangkan tentang makna denotasi dan konotasi di atas yang disini menggambarkan tentang perubahan makna.

والله أعــــلم بالصـــــواب

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya

Selamat datang..

Selamat datang..