KLASIFIKASI HADIST
Aspek Kuantitas Hadist
Kuantitas hadist dari segi jumlah orang yang meriwayatkan suatu hadist atau dari segi jumlah sanadnya. Jumhur (mayoritas) ulama membagi hadist secara garis besar menjadi dua macam, yaitu hadist mutawatir dan hadist ahad, disamping pembagian lain yang diikuti oleh sebagian para ulama, yaitu pembagian menjadi tiga macam yaitu: hadist mutawatir, hadist masyhur (hadist mustafidh) dan hadist ahad.
1.Hadist Mutawatir
a.Pengertian hadist mutawatir
Mutawatir menurut bahasa berarti: suatu yang datang secara beriringan, tanpa perselangan antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan demikian hadist mutawatir, menurut bahasa adalah hadist yang datang secara beriringan, tanpa perselangan antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan menurut istilah para ulama telah memberikan batasan yakni: hadist mutawatir adalah tentang suatu yang mahsus (yang dapat ditangkap oleh panca indera), yang disampaikan oleh sejumlah besar rawi yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk berdusta.
Suatu hadist baru dapat dikatakan hadist mutawatir, bila hadist itu memenuhi tiga syarat, yaitu:
Pertama: Hadist yang diriwayatkan itu haruslah mengenai sesuatu dari Rasulullah SAW yang dapat ditangkap oleh panca indera, seperti sikap dan perbuatannya yang dapat dilihat dengan mata kepala atau sabdanya yang dapat didengar dengan telinga.
Kedua: Para rawi (orang-orang yang meriwayatkan hadist) itu haruslah mencapai jumlah yang menurut kebiasaan (adat) mustahil mereka sepakat untuk berbohong. Tentang beberapa jumlah minimal para rawi tersebut terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama, sebagian menetapkan dua belas orang rawi, sebagian yang lain menetapkan dua puluh, empat puluh dan tujuh puluh orang rawi.
Ketiga: Jumlah rawi dalam setiap tingkatan tidak boleh kurang dari jumlah minimal seperti yang ditetapkan pada syarat kedua.
b.Pembagian Hadist Mutawatir
1)Hadist mutawatir lafdhi
Hadist mutawatir lafdhi adalah mutawatir dengan susunan redaksi yang persis sama. Dengan demikian garis besar serta perincian maknanya tentu sama pula, juga dipandang sebagai hadist mutawatir lafdhi, hadist mutawatir dengan susunan sedikit berbeda, karena sebagian digunakan kata-kata muradifnya (kata-kata yang berbeda tetapi jelas sama makna atau maksudnya). Sehingga garis besar dan perincian makna hadist itu tetap sama.
Contoh hadist mutawatir lafdhi:
Artinya: Rasulullah SA W, bersabda: “Siapa yang sengaja berdusta terhadapku, maka hendaklah dia menduduki tempat duduknya dalam neraka” (Hadist Riwayat Bukhari dan lain-lain).
Hadist tersebut menurut keterangan Abu Bakar al-Bazzar, diriwayatkan oleh empat puluh orang sahabat, bahkan menurut keterangan ulama lain, ada enam puluh orang sahabat, Rasul yang meriwayatkan hadist itu dengan redaksi yang sama.
2)Hadist Mutawatir maknawi
Hadist mutawatir maknawi adalah hadist mutawatir dengan makna umum yang sama, walaupun berbeda redaksinya dan berbeda perincian maknanya. Dengan kata lain, hadist-hadist yang banyak itu, kendati berbeda redaksi dan perincian maknanya, menyatu kepada makna umum yang sama.
Jumlah hadist-hadist yang termasuk hadist mutawatir maknawi jauh lebih banyak dari hadist-hadist yang termasuk hadist mutawatir lafdhi.
Contoh hadist mutawatir maknawi:
Artinya: Rasulullah SAW pada waktu berdoa tidak mengangkat kedua tangannya begitu tinggi sehingga terlihat kedua ketiaknya yang putih, kecuali pada waktu berdoa memohon hujan (Hadist Riwayat Mutafaq’ Alaihi).
3)Hadist Mutawatir ‘amali
Hadist mutawatir ‘amali adalah hadist mutawatir yang menyangkut perbuatan Rasulullah SAW, yang disaksikan dan ditiru tanpa perbedaan oleh orang banyak, untuk kemudian juga dicontoh dan diperbuat tanpa perbedaan oleh orang banyak pada generasi-generasi berikutnya.
Segala macam amal ibadah yang dipraktekkan secara sama oleh umat Islam atau disepakati oleh para ulama, termasuk dalam kelompok hadist mutawatir ‘amali. Seperti hadist mutawatir maknawi, jumlah hadist mutawatir ‘amali cukup banyak. Diantaranya, shalat janazah, shalat ‘ied, dan kadar zakat harta.
c.Kedudukan Hadist Mutawatir
Seperti telah disinggung, hadist-hadist yang termasuk kelompok hadist mutawatir adalah hadist-hadist yang pasti (qath’i atau maqth’u) berasal dari Rasulullah SAW. Para ulama menegaskan bahwa hadist mutawatir membuahkan “ilmu qath’i” (pengetahuan yang pasti), yakni pengetahuan yang pasti bahwa perkataan, perbuatan atau persetujuan berasal dari Rasulullah SAW. Para ulama juga biasa menegaskan bahwa hadist mutawatir membuahkan “ilmu dharuri” (pengetahuan yang sangat mendesak untuk diyakini atau dipastikan kebenarannya), yakni pengetahuan yang tidak dapat tidak harus diterima bahwa perkataan, perbuatan, atau persetujuan yang disampaikan oleh hadist itu benar-benar perkataan, perbuatan, atau persetujuan Rasulullah SAW.
Taraf kepastian bahwa hadist mutawatir itu sungguh-sungguh berasal dari Rasulullah SAW, adalah penuh dengan kata lain kepastiannya itu mencapai seratus persen.
Oleh karena itu, kedudukan hadist mutawatir sebagai sumber ajaran Islam tinggi sekali. Menolak hadist mutawatir sebagai sumber ajaran Islam sama halnya dengan menolak kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Kedudukan hadist mutawatir sebagai sumber ajaran Islam lebih tinggi dari kedudukan hadist ahad.
2.Hadist Ahad
a.Pengertian Hadist Ahad
Ahad (baca: aahaad) menurut bahasa adalah kata jamak dari waahid atau ahad. Bila waahid atau ahad berarti satu, maka aahaad, sebagai jamaknya, berarti satu-satu. Hadist ahad menurut bahasa berarti hadist satu-satu. Sebagaimana halnya dengan pengertian hadist mutawatir, maka pengertian hadist ahad, menurut bahasa terasa belum jelas. Oleh karena itu, ada batasan yang diberikan oleh ulama batasan hadist ahad antara lain berbunyi: hadist ahad adalah hadist yang para rawinya tidak mencapai jumlah rawi hadist mutawatir, baik rawinya itu satu, dua, tiga, empat, lima atau seterusnya, tetapi jumlahnya tidak memberi pengertian bahwa hadist dengan jumlah rawi tersebut masuk dalam kelompok hadist mutawatir.
b.Pembagian Hadist Ahad
1)Hadist masyhur (hadist mustafidah)
Masyhur menurut bahasa berarti yang sudah tersebar atau yang sudah populer. Mustafidah menurut bahasa juga berarti yang telah tersebar atau tersiar. Jadi menurut bahasa hadist masyhur dan hadist mustafidah sama-sama berarti hadist yang sudah tersebar atau tersiar. Atas dasar kesamaan dalam pengertian bahasa para ulama juga memandang hadist masyhur dan hadist mustafidah sama dalam pengartian istilah ilmu hadist yaitu: hadist yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih, dan beliau mencapai derajat hadist mutawatir. Sedangkan batasan tersebut, jumlah rawi hadist masyhur (hadist mustafidah) pada setiap tingkatan tidak kurang dari tiga orang, dan bila lebih dari tiga orang, maka jumlah itu belum mencapai jumlah rawi hadist mutawatir.
Contoh hadist masyhur (mustafidah) adalah hadist berikut ini:
Artinya: Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin tidak mengganggu oleh lidah dan tangannya.” (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)
Hadist di atas sejak dari tingkatan pertama (tingkatan sahabat Nabi) sampai ke tingkat imam-imam yang membukukan hadist (dalam hal ini adalah Bukhari, Muslim, dan Turmudzi) diriwayatkan oleh tidak kurang dari tiga rawi dalam setiap tingkatan.
2)Hadist ‘aziz
‘Aziz menurut bahasa, berarti: yang mulai atau yang kuat dan juga berarti jarang. Hadist ‘aziz menurut bahasa berarti hadist yang mulia atau hadist yang kuat atau hadist yang jarang, karena memang hadist ‘aziz itu jarang adanya. Para ulama memberikan batasan sebagai berikut: hadist ‘aziz adalah hadist yang diriwayatkan oleh dua orang rawi, kendati dua rawi itu pada satu tingkatan saja, dan setelah itu diriwayatkan oleh banyak rawi.
Berdasarkan batasan di atas, dapat dipahami bahwa bila suatu hadist pada tingkatan pertama diriwayatkan oleh dua orang dan setelah itu diriwayatkan oleh lebih dari dua rawi maka hadist itu tetap saja dipandang sebagai hadist yang diriwayatkan oleh dua orang rawi, dan karena itu termasuk hadist ‘aziz.
Contoh hadist 'aziz adalah hadist berikut ini:
Artinya: Rasulullah SAW bersabda: “Kita adalah orang-orang yang paling akhir (di dunia) dan yang paling terdahulu di hari qiamat.” (Hadist Riwayat Hudzaifah dan Abu Hurairah)
Hudzaifah dan abu hurairah yang dicantumkan sebagai rawi hadist tersebut adalah dua orang sahabat Nabi, walaupun pada tingkat selanjutnya hadist itu diriwayatkan oleh lebih dari dua orang rawi, namun hadist itu tetap saja dipandang sebagai hadist yang diriwayatkan oleh dua orang rawi, dan karena itu termasuk hadist ‘aziz.
3)Hadist gharib
Gharib, menurut bahasa berarti jauh, terpisah, atau menyendiri dari yang lain. Hadist gharib menurut bahasa berarti hadist yang terpisah atau menyendiri dari yang lain. Para ulama memberikan batasan sebagai berikut: hadist gharib adalah hadist yang diriwayatkan oleh satu orang rawi (sendirian) pada tingkatan maupun dalam sanad.
Berdasarkan batasan tersebut, maka bila suatu hadist hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat Nabi dan baru pada tingkatan berikutnya diriwayatkan oleh banyak rawi, hadist tersebut tetap dipandang sebagai hadist gharib.
Contoh hadist gharib itu antara lain adalah hadist berikut:
Artinya: Dari Umar bin Khattab, katanya: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Amal itu hanya (dinilai) menurut niat, dan setiap orang hanya (memperoleh) apa yang diniatkannya.” (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim dan lain-lain)
Kendati hadist diriwayatkan oleh banyak imam hadist, termasuk Bukhari dan Muslim, namun hadist tersebut pada tingkatan pertama hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat Nabi, yaitu Umar bin Khattab, dan pada tingkatan kedua juga diriwayatkan oleh hanya satu orang tabi’in, yaitu ‘Alqamah.
Dengan demikian hadist itu dipandang sebagai hadist yang diriwayatkan oleh satu orang dan termasuk hadist gharib.
c.Kedudukan Hadist Ahad
Bila hadist mutawatir dapat dipastikan sepenuhnya berasal dari Rasulullah SAW, maka tidak demikian hadist ahad. Hadist ahad tidak pasti berasal dari Rasulullah SAW, tetapi diduga (zhanni dan mazhnun) berasal dari beliau. Dengan ungkapan lain dapat dikatakan bahwa hadist ahad mungkin benar berasal dari Rasulullah SAW, dan mungkin pula tidak benar berasal dari beliau.
Karena hadist ahad itu tidak pasti (hgairu qath’i atau ghairu maqthu’), tetapi diduga (zhanni atau mazhnun) berasal dari Rasulullah SAW, maka kedudukan hadist ahad, sebagai sumber ajaran Islam, berada dibawah kedudukan hadist mutawatir. Lain berarti bahwa bila suatu hadist, yang termasuk kelompok hadist ahad, bertentangan isinya dengan hadist mutawatir, maka hadist tersebut harus ditolak.
d.Perbedaan Hadist Ahad dengan Hadist Mutawatir
1)Dari segi jumlah rawi
Hadist mutawatir diriwayatkan oleh para rawi yang jumlahnya begitu banyak pada setiap tingkatan, sehingga menurut adat kebiasaan, mustahil (tidak mungkin) mereka sepakat untuk berdusta. Sedangkan hadist ahad diriwayatkan oleh rawi atau dalam jumlah yang menurut adat kebiasaan masih memungkinkan dia atau mereka sepakat untuk berdusta.
2)Dari segi pengetahuan yang dihasilkan
Hadist mutawatir menghasilkan ilmu qath’i (pengetahuan yang pasti) atau ilmu dharuri (pengetahuan yang mendesak untuk diyakini) bahwa hadist itu sungguh-sungguh dari Rasulullah, sehingga dapat dipastikan kebenarannya. Sedangkan hadist ahad menghasilkan ilmu zhanni (pengetahuan yang bersifat dugaan) bahwa hadist itu berasal dari Rasulullah SAW, sehingga kebenarannya masih berupa dugaan pula.
3)Dari segi kedudukan
Hadist mutawatir sebagai sumber ajaran Islam memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari hadist ahad. Sedangkan kedudukan hadist ahad sebagai sumber ajaran Islam berada dibawah kedudukan hadist mutawatir.
4)Dari segi kebenaran keterangan matan
Dapat ditegaskan bahwa keterangan matan hadist mutawatir mustahil bertentangan dengan keterangan ayat dalam al-Qur’an. Sedangkan keterangan matan hadist ahad mungkin saja (tidak mustahil) bertentangan dengan keterangan ayat al-Qur’an.
Aspek Kualitas Hadist
Kualitas hadist adalah taraf kepastian atau taraf dugaan tentang benar palsunya hadist itu berasal dari Rasulullah SAW. Penentuan kualitas hadist tergantung pada tiga hal yaitu: jumlah rawi, keadaan rawi, dan keadaan matan. Klasifikasi hadist ditinjau dari aspek kualitas hadist, terbagi kedalam tiga tingkatan:
- .Hadist Sahih
- .Hadist Hasan
- Hadist Dha’if
1.Hadist Sahih
a.Definisi hadist sahih
Menurut bahasa, sahih berarti sehat, bersih dari cacat, sah, atau benar, sehingga hadist sahih menurut bahasa berarti hadist yang bersih dari cacat, atau hadist yang benar berasal dari Rasulullah SAW. Sedangkan batasan tentang hadist sahih yang diberikan oleh ulama yaitu: hadist sahih adalah hadist yang susunan lafazhnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Qur’an), hadist mutawatir, atau ijmak dan sanadnya bersambung serta para rawinya adil dan dhabith.
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh hadist sahih adalah sebagai berikut:
1)Sambung sanadnya
Bahwa setiap perawi memang menerima hadist secara langsung dari perawi seatasnya sejak permulaan sanad sampai penghabisannya.
2)Perawinya harus adil
Setiap perawinya haruslah memiliki sifat sebagai orang Islam, baligh, berakal, tidak fasiq, dan tidak cacat muru’ahnya.
3)Perawinya harus cermat
Setiap perawi haruslah sempurna kecermatannya, baik dia cermat ingatannya atau cermat kitabnya.
4)Tidak syadz
Hadisnya tidaklah merupakan hadist yang syadz. Syadz artinya tidak cocoknya seorang perawi terpercaya terhadap seorang perawi yang lebih terpercaya darinya.
5)Tidak terkena
Hadistnya tidak terkena sebab-sebab sulit dan tersembunyi yang dapat merusak kesahihan hadist, padahal kenyataan lahirnya adalah selamat darinya.
Dari kelima syarat itu, apabila salah satu syarat tidak terpenuhi atau rusak, maka hadist dalam keadaan demikian tidak dapat disebut sebagai hadist sahih
b.Contoh hadist sahih
--------------------------------------
Hadist ini dikatakan sahih karena:
1)Sanadnya sambung, sebab perawinya mendengar langsung dari gurunya.
2)Perawinya adil dan cermat, sebab disebutkan Abdullah bin Yusuf adalah seorang terpercaya dan cermat, Malik bin Anas adalah imam yang hafidz, Ibnu Syihab az-Zuhri adalah ahli fiqh hafidz, Muhammad bin Jubair adalah orang terpercaya, dan Jubair bin Muth’im adalah seorang sahabat.
3)Hadistnya tidaklah satu illat pun.
c.Pembagian hadist sahih
Hadist sahih dapat dibagi kepada dua bagian yaitu:
1)Hadist sahih li dzatih
Adalah hadist yang memenuhi secara lengkap syarat-syarat hadist sahih.
2)Hadist sahih li ghairih
3)Adalah hadist dibawah tingkatan sahih yang menjadi hadist sahih karena diperkuat oleh hadist-hadist yang lain.
Selain perincian tersebut, ada pula penentuan urutan tingkatan hadist sahih, adalah hadist yang diriwayatkan oleh:
1)Bukhari dan Muslim
2)Bukhari sendiri
3)Muslim sendiri
4)Ulama yang memakai syarat-syarat yang dipakai oleh Bukhari dan Muslim.
5)Ulama yang memakai syarat-syarat yang dipakai oleh Bukhari sendiri.
6)Ulama yang memakai syarat-syarat yang dipakai oleh Muslim sendiri.
7)Ulama yang terpandang (mu’tabar)
d.Kedudukan hadist sahih
Hadist sahih sebagai sumber ajaran Islam lebih tinggi kedudukannya dari hadist hasan dan dho’if, tetapi berada dibawah kedudukan hadist mutawatir.
Semua ulama sepakat menerima hadist sahih sebagai sumber ajaran Islam atau hujjah, dalam bidang hukum dan moral. Tetapi, sebagian ulama menolak kehujjahan hadist sahih dalam bidang aqidah, sebagian lagi dapat menerima, tetapi tidak mengkafirkan mereka yang menolak.
2.Hadist Hasan
a.Definisi hadist hasan
Hadist hasan, menurut bahasa berarti hadist yang baik. Para ulama menjelaskan bahwa hadist hasan tidak mengandung illat dan tidak mengandung kejanggalan. Kekurangan hadist hasan dari hadist sahih adalah pada keadaan rawi yang kurang dhabith, yakni kurang kuat hafalannya. Semua syarat hadist sahih dapat dipenuhi dhabithnya rawi (cermatnya rawi).
b.Contoh hadist hasan
Hadist ini telah dikatakan oleh Turmudzi sendiri: “Ini adalah hadist hasan yang gharib.”
Hadist ini adalah hadist hasan karena para perawinya yang empat adalah terpercaya kecuali Ja’far bin Sulaiman adh-Dhaba’i karena dia sangat jujur sekali, karena itu hadistnya turun dari kategori sahih ke hasan.
c.Pembagian hadist hasan
Hadist hasan dibagi menjadi dua, yaitu:
1)Hadist hasan li dzatih
Adalah hadist yang keadaannya seperti tergambar dalam batasan hadist hasan di atas.
2)Hadist hasan li ghairih
Adalah hadist dibawah derajat hadist hasan yang naik ke tingkatan hadist hasan karena ada hadist lain yang mengikutinya.
d.Kedudukan hadist hasan
Para ulama sepakat memandang bahwa tingkatan hadist hasan berada sedikit dibawah tingkatan hadist sahih, tetapi mereka berbeda pendapat tentang kedudukannya sebagai sumber ajaran Islam atau sebagai hujjah. Masyarakat ulama memperlakukan hadist hasan seperti hadist sahih. Mereka menerima hadist hasan sebagai hujjah atau sumber ajaran Islam, baik dalam bidang hukum, moral, maupun aqidah. Tetapi sebagian ulama menolak hadist hasan sebagai hujjah dalam bidang hukum apalagi dalam bidang aqidah.
3.Hadist dha’if
a.Definisi hadist dha’if
Hadist dha’if, menurut bahasa berarti hadist yang lemah. Para ulama memberikan bagi hadist dha’if yaitu: hadist yang tidak menghimpun sifat-sifat hadist sahih dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadist hasan. Pada hadist dha’if itu terdapat hal-hal yang menyebabkan lemahnya dugaan para ulama untuk membenarkannya berasal dari Rasulullah SAW.
b.Pembagian hadist dha’if
Hadist-hadist dha’if dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu hadist dha’if karena gugurnya rawi dalam sanadnya dan hadist dha’if karena adanya cacat pada rawi dan matan.
c.Contoh hadist dha’if
Hadist di atas merupakan hadist dha’if karena gugurnya rawi. Hadist di atas gugur satu atau dua rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya, yaitu rawi pada tingkatan tabi’in dan sahabat Nabi. Hadist tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dari Abu Bakar bin Ali Syaiban, dari Ismail al-Husain, dari Fatimah az-Zahra. Tetapi menurut Ibnu Majah, Fatimah az-Zahra tidaklah berjumpa dengan Fatimah binti al-Husain. Jadi, ada rawi yang gugur pada tingkatan tabi’in.
d.Kedudukan hadist dha’if
Para ulama sepakat menolak hadist sebagai hujjah dalam menetapkan aqidah dan hukum. Para ulama memang berbeda pendapat tentang boleh tidaknya memakai hadist dha’if tertentu, yang menjelaskan tentang berbagai keutamaan yang terkandung dalam suatu amal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebagian ulama membolehkan, karena memandang bahwa hadist tersebut dapat mendorong orang untuk lebih giat mewujudkan amal yang diperintahkan itu. Sebagian lagi tidak membolehkan memakai hadist dha’if manapun karena khawatir bahwa orang banyak akan memandang hadist dha'if yang dipakai itu sebagai hadist Rasulullah.
Aspek Penyandaran Hadist
Dilihat dari aspek penyandaran hadist kepada Rasulullah SAW atau bukan kepadanya, hadist dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
- Hadist Marfu’
- Hadist Mauquf
- Hadist Maqthu
Berikut pembahasan bagian demi bagiannya.
1.Hadist Marfu’
a.Definisi hadist marfu’
Hadist marfu’, menurut bahasa berarti hadist yang diangkat atau ditinggikan. Para ulama memberi batasan bahwa hadist marfu’ adalah apa yang disanadkan kepada Rasulullah SAW, baik perkataan, perbuatan, maupun taqrir (persetujuan). Jadi, setiap hadist yang disanadkan kepada Rasulullah SAW adalah marfu’.
b.Contoh hadist marfu’
1)Hadist marfu’ dari perkataan Rasulullah SAW, Abu Musa al-Asy'ari berkata:
Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain seperti satu bangunan, yang satu bagiannya menguatkan bagian yang lain.“ (Hadist Riwayat Bukhari, Muslim, dan Turmudzi)
2)Hadist marfu' dari perbuatan Rasulullah SAW, Anas bin Malik berkata:
Adalah Nabi SAW meluruskan shaf-shaf kami bila kami berdiri untuk shalat, apabila kami telah lurus, baru beliau bertakbir. (Hadist Riwayat Muslim)
3)Hadist marfu’ dari taqrir Rasulullah SAW, Ibnu Abbas berkata:
Adalah kami melakukan shalat dua rakaat sesudah terbenamnya matahari, sedang Rasulullah SAW melihat kami dan tidak menyuruh kami serta tidak melarang kami. (Hadist Riwayat Muslim)
c.Kedudukan hadist marfu’
Sebagian dari hadist marfu’ dapat dipegang sebagai hujjah dan sebagian yang lain tidak. Hal tersebut sesuai dengan kualitas hadist tersebut yang telah diuraikan sebelumnya.
2.Hadist Mauquf
a.Definisi hadist mauquf
Hadist mauquf, menurut bahasa berarti hadist yang dihentikan. Para ulama memberi batasan bahwa: hadist mauquf adalah hadist yang disandarkan kepada sahabat bukan kepada Nabi SAW.
b.Contoh hadist mauquf
c.Kedudukan hadist mauquf
Hadist mauquf tidaklah diterima sebagai hujjah atau dalil bagi ajaran Islam. Sebab yang dapat diterima sebagai hujjah ini hanyalah al-Qur’an dan hadist yang sungguh-sungguh hadist Nabi SAW. Namun jika ternyata kesahihannya memang dapat dipertanggungjawabkan maka dia dapat memperkuat sementara hadist dha’if, karena tindakan sahabat adalah perwujudan dan tindakan terhadap as-sunnah.
3.Hadist Maqthu’
a.Definisi hadis maqthu’
Hadist maqthu’ menurut bahasa berarti hadist yang terputus. Para ulama memberi batasan bahwa: hadist maqthu’ adalah apa yang disandarkan kepada tabi’in dan orang-orang dari generasi sesudahnya baik perkataan, perbuatan, atau yang seumpamanya.
b.Conotoh hadist maqthu’
Ucapan Hasan al-Bashri, seorang tabi’in: “Bersikaplah terhadap dunia ini seolah-olah engkau tidak pernah berada di atasnya, dan bersikaplah terhadap akhirat seolah-olah engkau tidak akan keluar-keluar didalamnya. Jual-lah hidup duniamu untuk memperoleh hidup akhirat, pasti keduanya akan engkau peroleh. Tetapi janganlah kau jual hidup akhiratmu untuk memperoleh hidup duniamu pasi keduanya akan lenyap dari tanganmu.”
c.Kedudukan hadist maqthu’
Seperti halnya hadist mauquf, hadist maqthu’ tidaklah dipegang sebagai hujjah atau dalil dalam ajaran Islam, karena hadist maqthu’ tidak lain adalah dari perkataan atau perbuatan tabi’in (generasi sesudah sahabat Nabi) atau perkataan/perbuatan orang-orang dari generasi berikutnya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya