SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI ALI FARHAN

Sabtu, 18 Desember 2010

ASAL-USUL DAN PERKEMBANGAN STUDI HADIS ORIENTALIS

ASAL-USUL DAN PERKEMBANGAN STUDI HADIS ORIENTALIS

oleh: Ali Farhan/UIN yogya

PENDAHULUAN


Hadis Nabi Saw. diyakini oleh mayoritas umat Islam sebagai bentuk ajaran yang paling nyata dan merupakan realisasi dari ajaran Islam yang terkandung dalam al-Qur’an.
Dalam hubungan antara keduanya, hadis berfungsi sebagai penjelas al-Qur’an. Interpretasi terhadap petunjuk Allah ini diwujudkan dalam bentuk nyata dalam kehidupan Nabi. Sabda, perilaku, dan sikapnya terhadap segala sesuatu, terkadang menjadi hukum tersendiri yang tidak ditemukan dalam al-Qur’an.
Oleh karena sedemikian sentralnya keberadaan hadis nabi itu, banyak musuh-musuh Islam berupaya meruntuhkan ajaran Islam dengan cara mengkaji dan meneliti hadis dengan satu tujuan untuk meragukan dasar-dasar validitas hadis sebagai dalil / dasar argumentasi. Penelitian dan kajian-kajian yang dilakukan oleh musuh-musuh islam itu (diantaranya sebagaian dilakukan oleh orientalis) itu sebenarnya mengajak umat islam untuk meragukan kebenaran dari hadis. Dengan diragukannya hadis-hadis yang ada dalam kitab-kitab hadis karya ulama masa lalu, maka robohlah sudah satu pilar agama Islam.

PEMBAHASAN

Asal-usul studi hadis orintalis

Orientalisme memang tidak lahir dari ruang hampa. Sebaliknya orientalisme lahir dari suatu seajrah tertentu di Barat dalam hubungannya dengan Islam. Corpus Cluny dan Perang salib (1100-1500 M) menjadi sarana pertama berlangsungnya kontak langsung orang-orang Eropa dengan kaum Muslimin. Tetapi karena dalam situasi perang, maka kontak langsung ini sangat diwarnai kebencian dan permusuhan. Dari sinilah beredar luas dan ditemukan cerita-cerita salah dan negatif tentang Islam dan kaum Muslimin, dah tentunya hadits jugapun jadi sasaran para orientalis dalam mecari-cari kejanggalan/kelemahan di dalamnya karena hadits nabi adalah pedoman kedua setelah al-qur’an yang disini banyak peribadatan yang di anut oleh umat muslim.

Bagi sarjana Barat, otentisitas hadis dalam Khazanah Islam sedikit-banyak mengalami persoalan. Ketika mempelajari sejarah perjalanan hadis, mereka mendapatkan jarak yang begitu lama antara kodifikasi kitab-kitab hadis dengan era Rasulullah (produksi hadis). Kitab hadis tertua yang kita dapati adalah “al-Muwattha‘” karya Imam Malik (w. 179 H). Diperkirakan kitab ini ditulis pada pertengahan abad ke-2 H. Kitab-kitab hadis yang lain ditulis sesudah masuk abad ke-3 H. Jarak antara produksi hadis dengan kitab-kitab koleksi terbentang antara satu setengah atau dua abad lebih. Hal ini menjadi lahan empuk untuk mempersoalkan otentisitas hadis. Terlebih-lebih diakui oleh para sarjana muslim bahwa pada pertengahan abad pertama hijriah terjadi konflik politik dalam tubuh umat Islam. Untuk memperkuat dukungan politik, sebagian kelompok ada yang mencipta hadis-hadis, seolah-olah Rasulullah dulu pernah berkata seperti yang disebut dalam hadis ciptaan tersebut. Hal ini mempertebal keyakinan para sarjana Barat untuk menyatakan betapa sulit mempercayai otentisitas hadis yang dimuat dalam kitab-kitab ensiklopedia hadis. Mereka mencoba menginterogasi beberapa perawi hadis yang oleh kalangan ulama hadis tidak diragukan lagi kredibilitasnya.

Gugatan Orientalis terhadap hadis bermula pada pertengahan abad ke-19 Masehi, tatkala hampir seluruh bagian dunia Islam telah masuk dalam cengkeraman kolonialisme bangsa-bangsa Eropa. Adalah Alois Sprenger (1813-1893 M), yang pertama kali mempersoalkan status hadis dalam Islam. Dalam pendahuluan bukunya mengenai riwayat hidup dan ajaran Nabi Muhammad saw, misionaris asal Jerman yang pernah tinggal lama di India ini mengklaim bahwa hadis merupakan anekdot (cerita-cerita bohong tapi menarik).

Klaim ini diamini oleh rekan satu misinya William Muir (1819-1905 M), Orientalis asal Inggris yang juga mengkaji biografi Nabi Muhammad saw dan sejarah perkembangan Islam. Menurut Muir, dalam literatur hadis, nama Nabi Muhammad sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan dan keganjilan. Oleh sebab itu, katanya lebih lanjut, dari 4.000 hadis yang dianggap shahih oleh Imam Bukhari, paling tidak separuhnya harus ditolak. Itu dari sumber isnadnya, sedangkan dari sudut matannya, maka hadis: “Must stand of fall upon its own merit”. Tulisan ini kemudian dijawab oleh Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M), dalam esei-eseinya. Selang beberapa lama setelah itu, muncul Ignaz Goldziher (1850-1921 M). Yahudi kelahiran Hungaria ini sempat nyantri di universitas al-Azhar Kairo-Mesir, selama kurang lebih setahun (1873-1874).
Karena gugatan sarjana orientalis terhadap hadis pada awalnya mepersoalkan ketiadaan data historis dan bukti tercatat (Documentary Evidence) yang dapat memastikan otentisitas hadis, maka sejumlah pakar pun melakukan penilitian intensif perihal sejarah literatur hadis guna mematahkan argumen orientalis yang mengatakan bahwa hadis baru dicatat pada abad kedua dan ketiga hijriah. Professor Muhammad Hamidullah (1909- 2002 M), Fuad Sezgin, Nabia Abbot, dan Muhammad Musthafā al-A‘zāmī, dalam karya masing-masing berhasil mengemukakan bahwa terdapat bukti-bukti konkrit yang menunjukkan pencatatan dan penulisan hadis sudah dimuali semenjak kurun pertama hijriah sejak Nabi saw masih hidup. Namun demikian oleh orientalis bukti-bukti ini diabaikan begitu saja bahkan ada yang menolaknya mentah-mentah.

2. Diskursus di Barat; perkembangan studi hadis Orientalis

Ketika sarjana Barat memasuki domain penelitian tentang sumber dan asal usul Islam, mereka dihadapkan pada pertanyaan tentang apakah dan sejauhmana hadis hadis atau riwayat riwayat tentang nabi dan generasi Islam pertama dapat dipercaya secara hisroris. Pada fase awal kesarjanaan Barat, mereka menunjukkan kepercayaan yang tinggi terhadap literatur hadis dan riwayat riwayat tentang nabi dan generasi Islam awal. Tetapi sejak paroh kedua abad kesembilan belas, skeptisime tentang otentisitas sumber tersebut muncul. Bahkan sejak saat itu perdebatan tentang isu tersebut dalam kesarjanaan Barat didominasi oleh kelompok skeptis. Kontribusi sarjana seperti Ignaz Goldziher, Joseph Schacht, Wansbrough, Patricia Crone, Michael Cook dan Norman Calder berpengaruh secara dramatis terhadap karya karya sarjana Barat. Akan tetapi, Tidak semua sarjana Barat dapat digolongkan dalam aliran atau “mazhab“ skeptis. Sarjana seperti Joseph Van Ess, Harald Motzki, Miklos Muranyi, M.J. Kister, Fueck, Schoeler bereaksi keras terhadap sejumlah premis, kesimpulan dan methodologi para kelompok skeptis. Mereka dapat digolongkan sebagai kelompok non skeptis. Perdebatan antara kedua kelompok ini sangat tajam selama dua dekade terahir. Singkatnya, diskursus hadis di Barat selalu merujuk kepada nama Ignaz Goldziher (Honggaria) dan Joseph Schacht (Austria), dan untuk yang masih hidup G.H.A. Juynboll (Belanda), Harald Motzki (Jerman) dan beberapa nama yang lain. Dimata Orientalis kedua nama yang pertama dianggap seperti Ibn al-Salah (pendekar ulum al-hadith Muslim) atau Ibn Hajar dalam dunia Islam. Sedangkan G. H. A. Juynboll dan Harald Motzki, dianggap (kurang lebih) seperti Muhammad Shakir, al-Albani dan al-Saqqaf atau al-Gumari dalam dunia Islam. Kedua nama pertama (Goldziher dan Schacht) telah wafat, tapi meninggalkan pengaruh global dan menciptakan madhhab skeptis di Barat. Dimasa Goldziher (Mohammedanische Studien,1890) dan Schacht (The Origins 1950), mayoritas sarjana Barat untuk tidak mengatakan semua, skeptis terhadap literatur Islam, termasuk hadis. Diskursus masa awal Islampun (abad pertama kedua) dianggap tidak tersentuh karena minusnya sumber yang tersedia untuk itu. Secara umum, madhab skeptic berpendapat bahwa pengetahuan dan informasi tentang masa awal Islam (abad pertama kedua hijriah) hanyalah perpsepsi komunitas Muslim abad ketiga. Literatur yang ada tidak lebih dari sekedar refleksi peta konflik yang tidak dapat memantulkan realitas seperti digambarkan oleh sumber itu sendiri. Beberapa dekade terahir mazhab skeptis yang telah mapan di Barat tidak lagi satunya-satunya trend yang mendominasi diskursus studi Islam di Barat. Mazhab nonskeptis yang dikomandani oleh sejumlah Orientalis sekaliber Motzki, Fuec, Scheoler, Schoeler dll, turut meramaikan diskursus masa awal Islam. Lewat metodologi yang mereka kembangkan, mereka melakukan rekonstruksi sejarah untuk melihat sejauh mana literatur abad ketiga dapat memberikan informasi akurat tentang abad pertama kedua hijriah. Sarjana Muslim Fuat Sezgin, sarjana berkebangsaan Turki yang menulis karya masterpiece Geschichte des arabishen Schrifftums, dan Muhammad Azmi telah terlibat dalam diskursus hadis di barat, namun radiasi pengaruhnya terasa sangat marginal di Barat.. Dalam studi yang cukup serius, Sezgin dan Azmi berkesimpulan bahwa proses transmisi hadis nabi secara tertulis dimulai sejak masa sahabat sampai pada masa pengumpulan hadis pada pertengahan abad ketiga hijriah. Dengan kata lain, literature hadis yang diwarisi dari pertengahan abad ketiga adalah hasil dari periwayatan tertulis dari masa sahabat, sehingga kwalitas historisitasnya terjamin tanpa keraguan. Kesimpulan Sezgin dan Azmi dikukung oleh Abbott. Kelemahan ketiga sarjana ini menurut pengkritiknya adalah mereka menggunakan sumber atau literatur pada abad ketiga untuk merekonstruksi peristiwa abad pertama. Dan metode yang digunakan adalah metode penyandaran atau isnad. Oleh para Orientalis, argumen-argumen yang diajukannya dianggap circular. Terlepas dari kesimpulan sarjana Barat terhadap kualitas hadis yang sering kurang simpatik dimata orang Islam, mempelajari metodologi mereka sangatlah fruitfull dari perspektif akademis. Karena ia tidak hanya mengapresiasi literatur Islam tapi juga menunjukkan kelemahannya yang dapat membuka mata kita. Menurut berbagai ilmuan muslim, metodologi ini kurang diakses, untuk tidak mengatakan, sama sekali belum disentuh oleh para akademisi hadis di tanah air. Dunia Islampun gagal mengikuti perkembangan metodologi ini. Sarjana Islam mungkin trauma oleh ide-ide Goldziher dan Joseph Schacht, sehingga mereka apriori terhadap metodologi yang dikembangkan di Barat. Padahal, diskursus hadis di Barat berkembang sangat dinamis. Premis dan kesimpulan Goldziher dan Schacht dan para pendukungnya yang secara umum menafikan historisitas penyandaran hadis kepada nabi dan Sahabat telah mengalami revisi signifikan. Di samping itu, metode untuk menentukan kualitas sebuah hadispun berkembang dinamis.


PENUTUP

Dari penjelasan yang telah penulis uraikan di atas tentunya dapat di ambil kesimpulan, bahwa perkembangan studi islam (hadits) di dunia barat, disebabkan oleh adanya kontak langsung antara orang barat dengan orang islam, adanya pelajar barat yang belajar kedunia islam dan adanya gerakan penerjemahan kitab. Perkembangan peradaban barat yang berkembang begitu pesat, dimulai sejak periode pertengahan, dimana peradaban umat islam pada saat itu mengalami stagnasi. Hasil perkembangan studi islam di Dunia Barat, membuat para ilmuwan Barat banyak tertarik untuk mengkajinya.

Semoga bermanfaat….


Daftar Pustaka
1. Amin, Kamaruddin Artikel; Problematika Ulumul Hadis, Sebuah Upaya Pencarian Metodologi Alternatif, UIN Alauddin Makassar
2. Amin, Kamaruddin Menguji kembali keakuratan Metode Kritik hadits, (Jakarta; hikmah, 2009) hlm 134
3. Saekan, Zuhdi Amin, Artikel; Orientalis dan Ilmu Hadis; Studi Kritik Hadis antara Ignaz Goldziher (1850 – 1921 M) dan Musthafā al-Sibā’ī (1915 – 1964 M)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya

Selamat datang..

Selamat datang..