SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI ALI FARHAN

Kamis, 24 Desember 2009

KITAB SAHIH IBN KHUZAIMAH

KITAB SAHIH IBN KHUZAIMAH

{Hasil Karya Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah al-Naisaburi}

Bye. Ali Farhan Ibn Ahmadi

PENDAHULUAN

Hadits merupakan sumber ajaran islam yang kedua setelah Al-Qur’an, Dari sekian banyak kitab koleksi hadits yang telah di paparkan dalam mata kuliah sebelumnya, dsini penulis mencoba untuk memaparkan kitab Sohih Ibnu Khuzaimah yang tentunya kita semua sedikit banyak sudah mengenal beliau.
Berkaitan dengan kitab Sahih Ibn Khuzaimah, melihat kepada kualitas hadits yang diriwayatkannya, ada ulama’ yang berpendapat bahwa kitabnya tidak hannya mencakup seluruh hadits shohih namun terdapat juga hadits yang derajatnya hasan bahkan do’if . untuk mengetahui lebih jelas tentang kitab hadits ini, maka dalam tulisan ini, penulis sedikit menguraikan tentang kitab Sahih Ibn Khuzaimah ini dan selanjutnya mari kita menggali bersama-sama tentang rahasia apa saja yang terdapat dalam kitab ini.

PEMBAHASAN

1. Biografi Ibnu Khuzaimah (223-311 H)

Ibnu Khuzaimah nama lengkapnya ialah Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah al-Naisaburi. Ia lahir pada bulan Safar 223 H (838 M) di Naisabur (Nisapur), sebuah kota kecil di Khurasan, yang sekarang terletak di bagian timur negara Iran.
Sejak kecil ia telah mempelajari al-Qur’an, setelah itu konon ia sangat ingin untuk melawat menemui Ibn Qutaibah (wafat tahun 240 H) guna mencari dan mempelajari hadits. Lantas ia meminta izin kepada ayahnya namun ayahnya meminta agar puteranya terlebih dahulu mempelajari al-Qur’an hingga benar-benar memahaminya. Setelah dianggap mampu memahami al-Qur’an barulah ia diizinkan oleh ayahnya mencari dan mempelajari hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan melawat ke Marwa dan menemui Muhammad bin Hisyam serta Ibnu Qutaibah.
Sejak itulah, yakni sekitar tahun 240 H, ketika Ibnu Khuzaimah berusia tujuh belas tahun, ia giat mengadakan lawatan intelektual ke berbagai kawasan Islam. Di Naisabur ia belajar kepada Muhammad bin Humaid (wafat tahun 230 H), Ishaq bin Rahawaih (wafat 238 H) dan lain-lain. Di Marwa kepada ‘Ali bin Muhammad, di Ray kepada Muhammad bin Maran dan lain-lain, di Syam kepada Musa bin Sahl al-Ramli dan lain-lain, di Jazirah kepada ‘Abdul Jabbar bin al-A’la dan lain-lain, di Mesir kepada Yunus bin ‘Abdul al-A’la dan lain-lain, di Wasit kepada Muhammad bin Harb dan lain-lain, di Baghdad kepada Muhammad bin Ishaq al-Sagani dan lain-lain, di Basrah kepada Nashr bin ‘Ali al-Azadi al-Jahdimi dan lain-lain, dan di Kufah kepada Abu Kuraib Muhammad bin al-A’la al-Hamdani dan lain-lain.
Selain itu ia pun banyak meriwayatkan hadits dari Ahmad bin Mani’, Muhammad bin Rafi’, Muhammad bin Basyar, Bandar Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Muhammad bin Yahya al-Zuhali, Ahmad bin Sayar al-Marwazi dan sebagainya. Iapun menerima hadits dari imam al-Bukhari, Muslim dan Khalaq. Guru-guru imam Ibnu Khuzaimah memang sangat banyak jumlahnya. Dalam periwayatan hadits ia tidak mau menyampaikan hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang telah ia terima dari guru-gurunya sebelum betul-betul memahaminya, dan seringkali ia memperlihatkan cacatan-cacatannya kepada guru-gurunya.
Demikian juga dengan orang-orang atau murid-murid yang pernah meriwayatkan hadits dari Ibnu Khuzaimah jumlahnya sangat banyak, sejumlah guru pun ada yang menerima hadits darinya, seperti al-Bukhari, Muslim dan Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam. Diantara murid-murid Ibnu Khuzaimah ialah Yahya bin Muhammad bin Sa’id, Abu ‘Ali an-Naisaburi dan Khala’iq. Yang paling akhir meriwayatkan hadits darinya di Naisabur ialah cucunya sendiri yaitu Abu Thahir Muhammad bin al-Fadl.
Hadits-haditsnya pun banyak diriwayatkan oleh ulama-ulama terkemuka pada zamannya. Diantara yang meriwayatkan hadits darinya ialah Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub at-Tabra’i, Abu Hatim, Muhammad bin Hibban al-Busyti, Abu Ahmad, Abdullah ibn Abdul Jurjani, Abu Ishaq Ibrahim bin Abdullah bin al-Albihani, Abu Bakar Muhammad bin Ismail as-Sasi, al-Qafal al-Kabir dan lain-lain.
Berkat kecerdasan dan keuletannya dalam mencari ilmu pengetahuan, akhirnya beliau menjadi seorang imam besar di Khurasan. Iapun banyak menggeluti hadits dengan mempelajari dan mendiskusikannya. Karena itulah ia terkenal sebagai seorang hafizh dan digelari Imam al-A’immah (pemimpin diantara para pemimpin).
Dari segi kepribadiannya pun Ibnu Khuzaimah dikenal sebagai orang yang sangat baik. Banyak orang yang memberikan kesaksian dan komentar tentang hal ini. Ia dikenal sebagai orang yang berani menyampaikan kebenaran, kritik dan koreksi sekalipun terhadap penguasa, terutama jika berkaitan dengan penyampaian hadits yang keliru. Hal ini, misalnya ia lakukan ketika mengkritik Ismail bin Ahmad, salah seorang penguasa pada saat itu, yang menyampaikan hadits yang didalam sanadnya terdapat periwayatan yang tidak jelas yaitu Abu Zar al-Qadhi. Demikian lah kesaksian yang diberikan oleh Abu Bakar bin Baluih.
Iapun dikenal sangat dermawan dan suka bersedaqah. Abu Tahir Muhammad bin al-Fadl (wafat tahun 387 H), cucu Ibnu Khuzaimah menyatakan bahwa kakeknya suka bekerja keras dan suka memberi urang dan pakaian kepada pecinta ilmu meskipun sesungguhnya yang dimilikinya itu sangat terbatas. Sementara al-Hakim menyatakan bahwa Ibnu Khuzaimah sering melakukan dakwah secara besar-besaran di Bustan. Acara tersebut dihadiri oleh banyak orang, baik kaya maupun miskin.
Selain itu, iapun dikenal memiliki kecerdasan atau daya hafal yang luar biasa. Abu Ali al-Husain bin Muhammad al-Hafiz an-Naisaburi berkata, “Aku belum pernah menemukan orang sehebat Muhammad bin Ishaq (Ibnu Khuzaimah). Beliau sangat mampu menghafal hukum-hukum fiqih dari hadits-hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dari hafalan al-Qur’an”. Hal senada juga juga dikemukakan oleh ad-Daraquthni yang menyatakan bahwa ia adalah seorang pakar hadits yang sangat terpercaya dan sulit mencari bandingannya. Sementara itu, Ibnu Abi Hatim memberikan komentar bahwa Ibnu Khuzaimah adalah orang yang sangat mumpuni. Ar-Rabi’, salah seorang guru Ibnu Khuzaimah dalam bidang fiqih, disamping Ibnu Rahawaih dan al-Muzani, juga menuturkan secara tulus bahwa iapun banyak memperoleh manfaat dari Ibnu Khuzaimah.
Beliau sangat berhati hati dalam meriwayatkan hadits, kadang kadang ia meninggalkan hadits karena ada catatan pada sanadnya.
Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata,” Kami lebih banyak memperoleh ilmu dari Ibnu Khuzaimah daripada yang ia diperoleh dari kami”.
Ad Daraquthny berkata,” Ibnu Khuzaimah seorang Imam yang kuat hapalannya dan tak ada bandingannya”.
Al Hakim menggolongkan ia ke dalam golongan fuqaha hadits, ia banyak mempunyai kitab dan beliau mempunyai sebuah kitab ash Shahih yang terletak dibawah Shahih Muslim
Selama masa hayatnya, Ibnu Khuzaimah banyak menghasilkan karya tulis. Abu Abdullah al-Hakim menyebutkan bahwa karya Ibnu Khuzaimah mencapai lebih dari 140 buah. Sayangnya sebagian besar karya-karya beliau tidak sampai ke tangan kita, meskipun sekedar nama ataupun judulnya. Karyanya yang masih dapat dijumpai sampai saat ini hanya dua, yaitu kitab at-Tauhid dan Kitab Shahih (Mukhtashar)-nya (yang lebih populer dengan nama Shahih Ibnu Khuzaimah-red). Namun berdasarkan penyelusuran M.M. Azhami terhadap kedua kitab tersebut di dalamnya beliau menemukan ada 35 buah nama “kitab” yang pernah disebutkan oleh Ibnu Khuzaimah. Nama-nama kitab yang disebutkan itu ialah: 1) al-Asyribah, 2) al-Imamah, 3) al-Ahwal, 4) al-Iman, 5) al-Iman wa al-Nuzur, 6) al-Birr wa al-Silah, 7) al-Buyu, al-Tafsir, 9) at-Taubah, 10) al-Tawakkal, 11) al-Jana’iz, 12) al-Jihad, 13) al-Du’a, 14) al-Da’awat, 15) Zikr Na’im al-Jannah, 16) Zikr Na’im al-Jannah, 17) al-Sadaqat, 18) al-Sadaqat min Kitabihi al-Kabir, 19) Sifat Nuzul al-Qur’an, 20) al-Mukhtashar min Kitab al-Salah, 21) al-Salat al-Kabir, 22) al-Salah, 23) al-Siyam, 24) al-Tibb wa al-Raqa, 25) al-Zihar, 26) al-Fitan, 27) Fadl Ali bin Abi Thalib, 28) al-Qadr, 29) al-Kabir, 30) al-Libas, 31) Ma’ani al-Qur’an, 32) al-Manasik, 33) al-Wara’, 34) al-Wasaya, dan 35) al-Qira’ah Khalfa al-Imam.
Dari penyebutan 35 nama kitab diatas, menurut M.M. Azhami termasuk-termasuk “Kitab” terdapat dapat memiliki tiga kemungkinan: (1) merupakan judul atau nama buku tersendiri, (2) hanya merupakan bagian atau bab dari satu buku, dan (3) dapat pula berarti kedua-duanya, yakni terkadang sebagai judul atau nama buku tersendiri, dan terkadang sebagai bagian atau bab dari suatu buku. M.M. Azhami berpendapat bahwa kemungkinan yang terakhirlah yang lebih kuat. Ia mengakui bahwa para ulama hadits seringkali menyusun kitab atau bukunya terdiri dari beberapa “kitab”. Hal itu misalnya dapat dilihat dalam Kitab Shahih al-Bukhari yang terdiri dari beberapa kitab yaitu (1) Kitab al-Iman, (2) Kitab al-Ilmi, (3) Kitab al-Wudlu, dan seterusnya.
Setelah mengisi masa hidupnya dengan berbagai perjuangan dan pengabdian, akhirnya pada malam sabtu tanggal 2 Zulqai’dah 311 H, Ibnu Khuzaimah wafat dalam usia kurang lebih 89 tahun. Jenazahnya dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dimakamkan di bekas kamarnya yang kemudian dijadikan makam.
2. Naskah Sahih Ibnu Huzimah.
Naskah Sahih Ibnu Huzaimah ini awalanya beredar di masayarakat dengan bentuk manuskrip. Naskah kitab koleksi hadits Hadits Shahih Ibnu Khuzaimah sesungguhnya oleh penyusunnya di beri nama Mukhtasar al-Mukhtasar min al-Musnad al-Shahih ‘an al-Nabi Sallahu ‘alaihi wa Sallam. Hal ini di ketahui dari pernyataan ibnu Khuzaimah dalam kutab tersebut. Seklain itu, ulama-ulama yang sesudahnya pun banyak yang mengutip dari kitab tersebut dan meyebutnya sebagai Mukhtasar al-Mukhtasar. Diantara para ulama’ yang menyebutkan nama itu ialah Al-Khalili (w.446 H=1054 M) dalam kitabnya al-Irsyad¸al-Baihaqi (w. 458 H=1066 M) dalam kitabnya al-Sunan al-Kubra, dan al-Zahabi (w. 848 H=1348 M) dalam kitabnya Siyar al-A’lam al-Nubala.
Menurut Dr.M.M. Azami, beliau tidak menemukan seorang pun ulama’ mutaqaddimin yang menamai kitab susunan Ibn Khuzaimah dengan nama al-Sahih. Penyebutan karyanya dengan nama al-Shahih bukanlah berasal darinya, akan tetapi muncul sesudahnya. Para ulama’ yang pernah menamai dengan sebutan tersebut ialah para ulama’ yang tergolong ulama’ mutaakhirin, seperti al-Munziri (w. 656 H = 1226 M), al-Dimyati (w.705 H = 1449 M), al-Suyuti (w. 911=1505 M), dan Ibn Fahd (w.?). hal ini masih berlanjut sampai sekarang.
Kitab Shahih Ibn Khuzaimah ini, sebagaimana tercermin dari judul aslinya, merupakan ringkasan (mukhtasar) dari kitab karyanya yang besar sebelumnya yaitu al-Musnad al-Kabir dalam pembahasan kitab (bagian) al-Tauhid. Namun, bila memperhatikan bentuk atau cara penuturan Ibn Khuzaimah dalam kitab itu yang terkadang memakai kata kerja bentuk lampau (fi’il madhi) yang terkadang memakai kata kerja bentuk sekarang (fi’il mudhari’), Menurut M.M. Azami, ada dua kemungkinan. Kemugkinan pertama, kitab Al-Mukhtasar merupakan ringkasan dari dari kitab al-Musnad al-Kabir, sebagaimana di sebutkan diatas, kemungkinan ke dua, kitab itu merupakan penyempurna dari kitab al-Musnad al-Kabir yang penyusunannya belum selesai, sehingga beliau merasa perlu untuk memasukkan hadits-hadits yang belum tercantum ke dalam kitab al-Musnad al-Kabir.
Mengenai orang-orang yang meriwayatkan kitab ini dari penulisnya tidak di ketahui secara pasti, namun di ketahui bahwa kitab tersebut tersebar melalui periwayatan cucu laki-laki Ibn Khuzaimah, yaitu Abu Tahir Muhammad bin al-Fadl (w. 387 H = 997 M). menurut pernyataan al-Khalili (w. 446 H = 1054 M), al-fadil-lah yang paling akhir (usianya paling muda) yang meriwayatkan kitab tersebut di Naisapur. Melalui al-Fadl ini nampaknya ada sejumlah orang yang meriwayatkan Sahih ibn Khuzaimah. Diantara mereka ialah (1) Abu Sa’id al-Kanjruzi/al-Janzruzi/Janjruz, (2) Abu Sa’ad al-Muqri, (3) Muhammad bin Muhammad bin ‘Isa al-Waraq, (4) Abu al-Muzhfir al-Qusyairi, (5) Abu al-Qasim al-Gazi, dan (6) Ismail al-Sabuni. sedangkat para periwayat manuskrip-manuskrip yang di temukan ialah (Abu Tahir Muhammad bin al-Naisaburi (w. 387 H= 997 M), (2) Abu Usman Isma’il bin Ibrahim bin ‘Abid bin ‘Amir al-Naisabur al-Sabuni (373-449 H = 983-1057 M), (3) Abu Muhammad ‘Abd al-‘Aziz bin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali bin Sulaiman al-Tamimi ad-Dimasqa al-Kanani (389-466 H = 999-1074 M), dan (4) Abu al-Hasan ‘Ali bin al-Muslim al-Sulmi (452-533 H = 1060-1138 M)

3. Metode dan sistematika Shahih inm Khuzaimah serta kuantitas Hadits.

Menurut hasil telaah M.M. Azami, penyusunan kitab ini dilakukan dengan cara atau methode Imla’, yakni dengan cara Ibn Khuzaimah mendiktekan haditshadits kepada murid-muridnya. Hal ini sangat jelas dengan banyaknya pengulangan kata-katanya: ‘Aku telah mengimlakan….”(قد امليت) , yang terdapat dalam kitab shaih ibnu Khuzaimah yang menunjukkan kepada pengertian tersebut.
Sedangkan dari sistematika penyusunannya, naskah cetakan Shahih Ibn Khuzaimah yang dikaji ini seluruhnya terdiri dari 4 juz/jilid. Dari keseluruhan jilid tersebut di bagi menjadi tujuh (7) kitab (dalam arti bagian dari buku). Ketujuh kitab di maksud secara berurutan ialah sebagai berikut:
1. Kitab al-wudu’ 4. Kitab al-jum’ah 7. Kitab al-manasik
2. Kitab al-salah 5. Kitab al-siyam
3. Kitab al-imamah fi al-salah 6. Kitab al-zakah
Tiap-tiap kitab di bagi atau di klasifikasikan menjadi beberapa bab dengan jumlah yang berbeda-beda untuk tiap-tiap kitabnya berkisar antara 100-500 an bab. Untuk empat kitab-kitab paruh pertamanya yaitu (1) kitab Al-wudu’, (2) kitab al-salah, (3) kitab al-imamah fi al-salah, (4) kitab al-jum’ah, setiap bab-nya di beri nomor urut dari mulai awal sampai akhir satu kitab tertentu. Dengan kata lain, pemberian nomor bab di mulai dari awal kembali yaitu nomor 1 (satu) jika kitab-nya berganti. Sedangkan pada ketiga kitab berikutnya yaitu kitab al-siyam (5) kitab al-zakah, (6) kitab al-manasik, (7) penomoran bab-nya di gabungkan mulai bab ke-1 s.d. 887
Perlu di ketahui bahwa dalam setiap bab memuat hadits-hadits Nabi (sanad dan matannya secara lengkap), dalam jumlah yang berbeda-beda untuk setiap bab-nya, kendatipun ada sejumlah kecil bab yang sama sekali tidak memuat satu buah hadits pun. Setiap bab di beri nama dan nomor. Penomoran hadits di berikan secara urut dari awal juz 1 sampai akhir juz IV kitab Shahih Ibnu Khuzaimah. Dengan melihat nomor urut terakhir hadits, maka jumlah keseluruhan hadits dalam karya ibnu Khuzaimah dapat segera di ketahui yaitu sebanyak 3.079 buah. Jumlah tersebut termasuk yang di ulang-ulang. Namun, nampaknya pengulangan hadits-hadits dalam kitab ini sekalipun ada jumlah yang relatif sedikit.
Untuk mengetahui sistematika Sahih Ibn Khuzaimah secara rinci, dan mengetahui nama-nama kitab, kuantitas jumma’u abwab serta kuantitas hadits-hadits di dalamnya, berikut ini di sajikan dalam bentuk tabel. Sebagai berikut:

Juz No. Kitab Nama Kitab Jumlah Jumma' No.Bab No.Urut Hadis Jumlah Hadis

I 1 Al-Wudu 12 1225 1-300 300
2 Al-Salat 2 1263 301-786 486
23 264-708 787-1469 683
II 3 Al-Imamah li al-Salat - 27-1 1470-1504 35
2 28-202 1505-1819 315
II 4 Al-Jum'ah 6 1-128 1820-1878 59
5 Al-Siyam 11 1-271 1879-2243 365
IV 6 Al-Zakat 8 272-455 2244-2503 260
7 Al-Manasik 1 456-887 2504-3079 576
JUMLAH 65 2150 3079

Memperhatiakan nama-nama kitab dalam tabel diatas, dan lebih rinci lagi dengan mencermati sistematikanya; nama-nama bab, jumma’u abwab atau semua hadits yang ada dalam kitab shohih Ibnu Huzimah, di ketahui bahwa hampir seluruh haditsnya hannya berkaitan dengan masalah-masalah hukum atau fiqih. Karenanya dapat dikatakan bahwa kitab shohih Ibnu Khuzimah merupakan kitab koleksi khusus hadits-hadits hukum. Hal ini dapat di maklumi karena pada saat kitab ini diskursus hukum atau fiqih islam sedang menjadi model atau trend yang dominan. Selain itu nampaknya diantara kehadiran kitab ini pun ialah untuk memenuhi permintaan atau kebutuhan masyarakat pada zamannya. Adapun koleksi hadits-hadits “non fiqih/hukum islam“ yang di himpun oleh ibnu Khuzaimah nampaknya di buat secara terpisah dari kitab koleksinya ini, misalnya dalam kitab at-Tauhid yang merupakan “induk” dari kitab koleksi ini.

4. Penilaian terhadap Shahih Ibn Khuzaimah dan Hadits-haditsnya.
Terdapat sejumlah ulama’ yang memberikan komentar terhadap kitab Sahih Ibn Khuzaimah, yang diantaranya:
a. Ibnu Hibban (w. 354 H = 965 M) berkata: “Aku tidak menjumpai seorang pun di muka bumi ini yang sangat bagus menyusun kitabnya selain Muhammad bin Ishaq (Ibn Khuzaimah) karena lafal-lafal haditsnya terpelihara, keshahihan dan tambahan-tambahan haditsnya, sehingga seolah-olah semua hadits ada di sana.”
b. Al-Khatib al-Bagdadi (w.463 H = 1072 M) dan Ibn Salah (w.643 H = 1245 M) keduanya memberikan komentar yang hampir senada dengan menyatakan bahwa Sahih Ibn Khuzaimah telah memenuhi kriteria sebagai kitab koleksi hadits sahih. Lebih lanjut Ibn Salah menyatakan bahwa kitab itu sangat bermanfaat bagi para pencari hadits guna melengkapi Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
c. Ibnu Kasir (w. 911 H = 1505 M) memberikan komentar bahwa Sahih Ibnu Khuzaimah dan Musnad Ibn Hiban keduanya lebih baik dari pada al-Mustadrak karya alHakim, mengingat sanad-sanad dan matan-matan haditsnya di tempatkan secara tepat. Namun, Ibn Kasir pun mengakui bahwa di dalam kedua kitab tersebut terdapat hadits-hadits daifnya.
d. Al-Iraqi (w. 806 H = 1404 M) menyatakan bahwa hadits-hadits sahih pun dapat di peroleh dalam karya-karya yang khusus memuat hadits-hadits sahih, seperti Sahih Abu Bakar Muhammad bin Ishaq Ibn Khuzaimah.
e. As-Suyuti (w.911 H = 1505 M) memberikan komentar bahwa Sahih Ibn Khuzaimah tingkatnya lebih lebih tinggi dari pada Sahih Ibn Hibban karena lebih selektif, beliau berhenti pada pada hadits sahih dan sedikit membicarakan isnad.
f. Ahmad Syakir (w.?), salah seoarng pakar hadits abad ke 20 yang berasal dari Mesir ayah ahmad Muhammad Syakir (w. 1958 M), menyatakan bahwa Sahih Ibn Khuzaimah, Musnad as-Sahih ‘ala at-Taqasim wa al-Anwa’ karya Ibnu Hibban, dan al-Mustadrak ‘ala as-Sahihain karya al-Hakim, ketiganya merupakan kitab yang sangat penting setelah Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, karena memuat hadits Sahih.
Terlepas dari berbagai penilaian atau komentar para ulama’ yang cenderung lebih melihat keunggulannya, sebagaimana yang di sebutkan di atas, dalam kitab Sahih Ibn Khuzaimah ini kualitas hadits-haditsnya tidak semuanya sahih, tetapi ada juga yang kualitas hasan bahkan terdapat pula hadits-hadits daif, Hanya saja hadits-hadits yang sangat daif hampir tidak di temukandalam kitab ini sebagaimana dinyakatan oleh M.M. Azami dan anotasi-anotasi yang di berikannya. Jadi, pemberian judul atau label sahih terhadap karya ini sesungguhnya tidak mencerminkan kualitas seluruh hadits yang di kandungnya. Bahkan, dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa kualitas hadits-hadits yang di kandungnya cukup banyak yang tidak sahih, barangkali lebih tepat jika kitab koleksi hadits ini di kategorikan sebagai kitab sunan.
Sekilah contoh Hadits doif yang terdapat dalam hadits sohih Ibn Khuzaimah tentang Ceramah pengarahan menyambut bulan Ramadhan yang dilakukan Nabi di depan para sahabatnya, dengan menyampaikan ceramah singkat mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan tuntunan Ramadhan. Agar kita semua dapat mengambil manfaat dari pengarahan Rasul s.a.w. tersebut, berikut ini dicantumkan ceramah beliau dengan lengkap:
“Wahai manusia, sesungguhnya telah menaungi kamu bulan yang agung dan penuh berkah. Bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pada bulan itu, Allah menjadikan puasanya sebagai suatu kewajiban dan qiyam atau shalat di malam harinya sebagai ibadah sunnah. Siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebajikan, maka nilainya sama dengan mengerjakan kewajiban di bulan lain. Siapa yang mengerjakan suatu kewajiban dalam bulan Ramadhan tersebut, maka sama dengan menjalankan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ramadhan itu adalah bulan kesabaran; sedangkan ketabahan dan kesabaran, balasannya adalah surga. Ramadhan adalah bulan pertolongan, pada bulan itu rizki orang-orang mukmin ditambah. Siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa di bulan itu, maka ia akan diampuni dosanya, dibebaskan dari api neraka. Orang itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tersebut. Sedangkan pahala puasa bagi orang yang melakukannya, tidak berkurang sedikitpun. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kami tidak semua memiliki makanan untuk berbuka bagi orang lain”. Bersabda Rasulullah s.a.w.: “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberikan sebutir kurma, atau seteguk air, atau seteguk susu”. Dialah Ramadhan, bulan yang permulaannya dipenuhi dengan rahmat, periode pertengahannya dipenuhi dengan ampunan dan maghfirah, pada periode terakhirnya merupakan pembebasan manusia dari azab neraka. Barang siapa yang meringankan beban pekerjaan pembantu-pembantu rumah tangganya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan membebaskannya dari api neraka. Oleh karena itu dalam bulan Ramadhan ini, hendaklah kamu sekalian dapat meraih empat bagian. Dua bagian pertama untuk memperoleh ridha Tuhanmu dan dua bagian lain adalah sesuatu yang kamu dambakan. Dua bagian yang pertama ialah bersaksi dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan hendaklah memohon ampunan kepada-Nya. Dua bagian yang kedua yaitu kamu memohon (dimasukkan ke dalam) surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang memberi minuman kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari telagaku, suatu minuman yang seseorang tidak akan merasa haus dan dahaga lagi sesudahnya, sehingga ia masuk ke dalam surga”. (Hadis Dhaif, Riwayat Ibnu Khuzaimah: 1780, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman: 3455. redaksi hadis di atas riwayat Ibn Khuzaimah).
Prof. Dr. M.M. Azami, editor kitab Shahih Ibn Khuzaimah, memberi catatan bahwa sanad hadis di atas adalah Dhaif, karena salah seorang rawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jud'an dikenal dhaif (lemah hafalannya). Menurut kritikus hadis Yahya bin Ma'in, Ali bin Zaid bin Jud'an adalah laisa bi hujjah (tidak dapat dijadikan hujjah), menurut Imam Abu Zur'ah Ali bin Zaid bin Jud'an adalah laisa bi Qawiy (tidak kuat), dan begitu pula menurut ulama yang lain .

KESIMPULAN

Dari apa yang telah penulis kemukaan di atas tentunya dapat diambil kesimpulan bahwa kitab Sahih Ibnu Khuzaimah ini adalah salah satu karya hadits yang tentunya banyak di kenal dalam masyarakat luas, khususnya para akademi tafsir hadis.
Kitab hadits sohih ibnu Khuzaimah merupakan kitab hadits yang di tulis oleh Ibnu Khuzaimah (223-311H) seorang ahli hadits yang terkenal alim dan meninggalkan banyak karya ilmiyah. Kitab ini di susun secara imla’ di mana ibnu Khuzaimah sang guru mendiktekan sejumlah hadits-hadits ke pada murid-muridnya. Hadits yang di muat dalam kitab tersebut sebanyak 3079 hadits dan di sajikan dalam empat jilid.
Sepertti apa yang telah penulis sampaikan dalam pendahuluan, bahwa kitab shohih ibnu Khuzaimah ini ternyata tidak hannya memuat hadits shohih namun memuat hadits hasan bahkan dloif, ini terbukti dengan satu contoh yang telah penulis kemukakan mengenai Ceramah pengarahan menyambut bulan Ramadhan yang dilakukan Nabi di depan para sahabatnya yang dinilai oleh Prof. Dr. M.M. Azami, editor kitab Shahih Ibn Khuzaimah, sebagai hadits doif, karena salah seorang rawi yang bernama Ali bin Zaid bin Jud'an dikenal dhaif (lemah hafalannya)

Semoga berman
faat..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya

Selamat datang..

Selamat datang..