Silsilah al-Ahadits al-Dha’ifah wa al-Mawdhu’ah wa Atsaruha al-Sayyi’ fi al-Ummah Karya Imam al-Albani
Bab I
Pendahuluan
Bab I
Pendahuluan
Musibah yang terbesar bagi umat Islam adalah tersebarnya hadits-hadits dhaif yang berada di berbagai kitab, atau yang lainnya. Oleh karena itu, zaman sekarang butuh generasi pemuda yang kritis terhadap segala apa yang dinisbatkan Rasulullah. Dari sekian ribu hadits sudah berapa ribuan Umat Islam mengkonsumsi hadits-hadits dhaif. Masyarakat awam tidak dipungkiri juga para Ulama’ yang belum begitu ahli kritik hadits juga sering banyak mengkonsumsi hadits dhaif. Karena mungkin alumni pondok pesantren yang masih salaf, sering mengkaji kitab kuning dan lain-lain. Lalu keluar dari pesantren sesuai dengan tingkat keilmuannya mengajarkan pada masyarakat awam. Dari hal inilah, menurut penulis alami berapa banyak pondok pesantren dengan metode salaf banyak santri mengkonsumsi hadits dhaif bahkan hadits mawdhu’ yang dia tidak merasa bahwa apa yang diyakininya itu adalah hadits dhaif. Untuk menjembatani hal itu semua, dibutuhkan zaman sekarang ini, sosok Pakar hadits kontemporer, Muh. Nashiruddin al-albani, yang selalu gelisah dan prihatin banyaknya hadits palsu yang banyak dikonsumsi umat Islam. Dimana hadits-hadits dhaif ini, berpengaruh sekali pada karakter seseorang. Inilah yang menjadi keresahan beliau sehingga disusun sebuah kitab yang berisi kumpulan-kumpulan hadits dhaif guna meluruskan akidah Umat Islam dan lain sebagainya yang insya Allah akan diterangkan nanti.
Banyak fenomena di sekitar masyarakat kita yang berpindidikannya rendah, ketika di bacakan hadits lalu ia sangat tunduk. Dan tidak ada yang greget untuk mengkritik. Karena orang awam sangat percaya sekali pada kiyai atau ulama’. Karena ulama’ ini di anggap mumpuni. Padahal tidak semua ulama’ yang ahli kritik hadits.
Bila di analisa betapa penting sekali, kita menjadi ahli spesialis hadits yang biasa menghukumi mana hadits yang shahih dan mana hadits yang dhaif. Sehingga segala apa yang kita jelaskan pada masyarakat awam tidak menimbulkan kesesatan. Dari sinilah betapa urgennya kita mengkaji Kitabnya Muh. Nashiruddin al-albani yang akan kita kaji bersama.
Dari Makalah ini, penulis mencoba mentransliterasi yang ada di muqaddimah beliau khususnya hanya jilid satu dan dua. Karena keterbatan waktulah, sehingga tidak dijelaskan di muqaddimah beliau dijilid yang lain. Di Muqaddimah jilid satu dan dua ini, banyak sekali diterangkan tentang bagaimana latar belakang beliau menulis, dan juga di kitab yang lain tentang biografi beliau seperti apa, dan apa saja yang di kitab ini, insya allah penulis akan menjelaskan cukup mendetail dari muqaddimah beliau ini. Selamat membaca.
A. Biografi Penulis
Nama lengkap beliau adalah al-Syaikh al-Muhaddits Muh. Nashiruddin bin Nuh Najati al-albani. Beliau dilahirkan di kota Asyqudah ibu kota al-Bania tahun 1914 M dalam keluarga yang agamis dan fakir. Orang tua beliau al-Hajj Nuh al-albani. Dia (orang tua beliau) memperoleh pendidikan di pondok pesantren al-Syar’iyyah di ibu kota al-Utsmaniyah, al-Astanah dahulu dinamakan Istambul. Lalu beliau kembali ke negaranya untuk berkhidmad atau mengajarkan agama di sekeliling masyarakatnya. Sehingga beliau dijadikan tempat kembali segala urusan/persoalan agama oleh masyarakat dan juga masyarakat ingin menimba ilmu kepadanya.
Seorang hakim di kota Albania (Ahmad Zogho) menguasai aturan-aturan kebijaksanaan hukum. Sehingga seorang hakim ini, mengikuti langkah kesewenang-wenangan Turki (ataturk), maka dia mewajibkan melepaskan hijab. Keadaan yang asalnya agamis berangsur-angsur berubah, sehingga hal itu mengkhawatirkan sebagian keluarga agamis ini pada agamanya. Akibatnya mereka memulai hijrah meninggalkan kotanya. Sedangkan keluarga Syaikh Nuh inilah merupakan perintis dari keluarga yang lain untuk hijrah ke negeri Syam. Dari negeri Syam ini, beliau berdomisili di kota Damsyiq.
Di kota Damsyiq, al-Syaikh Muh. Nashiruddin al-Albani memulai hidupnya, beliau belajar bahasa Arab, men jumpai al-Qur’an dibaca dengan lagu tilawah dan tajwid dan juga di sana menerima madzhab fiqih hanafi dan beliau belajar kepada ayahnya dan yang selain ayahnya. Pada akhirnya kondisi ini, beliau cenderung mendalami sunnah (hadits). Di kota ini beliau selalu berusaha untuk menghidupkan sunnah Nabi, selalu berintropeksi dan beribadah.
Orang tua beliau sangat fanatik pada madzhab hanafi dan Syaikh Muh. Nashiruddin al-Albani menceritakan dengan berulang kali bahwa ayahnya tidaklah senang/ ridho bila mengikuti jalan atau metode yang keluar dari madzhab hanafi.
Syaikh Muh. Nashiruddin al-albani juga gemar membahas dan menyelidiki kitab-kitab fiqih dan hadits guna memperoleh indikasi-indikasi dari beberapa kitab tersebut. Pada saat itu, beliau belum menjelaskan dengan kritik ilmiah pada kitab-kitab yang telah beliau teliti, hingga beliau mendapati secara kebetulan berupa sebagian makalah-makalah karya Syaikh Muh. Rasyid Ridho tentang kritik kitab Ihya’ karya al-Ghozali. Akhirnya setelah beliau mengetahui makalah tentang kritik-kritik ini, beliau berupaya dalam mengkaji dan meneliti beberapa kitab dengan menggunakan metode kritik ini, sedikit demi sedikit.
Banyak para pendendam dan orang-orang yang menolak pada metode yang digunakan beliau dalam menulis karyanya. Karena metode beliau berlawanan dari apa yang biasa digunakan oleh mereka.
Syaikh pada masa ini selalu mengisi waktunya untuk selalu memanfaatkan sebaik mungkin yaitu dengan mengkaji beberapa kitab. Dan kegiatannya ini beliau sediakan hanya untuk mencurahkan tenaga, pikiran, waktu untuk ilmu pengetahuan dan memperoleh nafkah. Dan segala apa yang dikaji, sesuai apa yang ada di tempat duduk beliau.
Saya tidak menemukan orang yang mengajak untuk menyalin kata-kata yang baru/bid’ah yang banyak melalui Syaikh,. Penyerangan yang terus menerus dalam memusuhi beliau untuk memperoleh ketenaran yang lebih darinya, karena beliau memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding yang lain. Beliau sabar sekali kepada orang yang memusuhi beliau. Dan juga beliau pernah di isyarati dengan kesan marah oleh para musuhnya.
Banyak ulama’ salaf berdebat dengan permusuhan dengan beliau dalam memahami al-Sunnah. Dalam hal akidah, beliau mengikuti jalan Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimitah, dan Syaikh Muh. Bin Abdul Wahhab Rahimahumullah.
Beliau banyak sekali mengarang kitab-kitab dan juga banyak mentahqiq kitab-kitab atau karya orang lain. Di antara kitab beliau yang terpenting adalah silsilatul ahaadiits Shahiihah, Silsilatul ahaadiitsidh-dhaifah, Irwaul Ghalil, Shohibul Jami’ al-Shagir wa ziyadatuhu, Shahihus Sunan wa Dhoifuha, Mukhtasharul Bukhari, Tahqiq Mukhtashar Muslim karya al-Mundziri, Tahqiq al-Sunnah karya Abi ‘Ashim, dan lain-lain.
Karya-karya beliau ini banyak ditolak oleh Syaikh-syaikh yang lain dan ulama’ kontemporer. Di antaranya sebagian temannya. Bahkan hampir tidak satupun karya beliau yang sunyi dari penolakan.
Syaikh dalam kehidupannya banyak berpindah-pindah guna menimba ilmu. Beliau pernah belajar di al-Jami’ah al-Islamiyah di Madinah al-Munawarah, beliau pernah berkunjung di Mesir, Maghrib, Isbania, Injiltera, Qithr, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan juga beliau banyak berkunjung di benua eropa. Beliau berdomisili di Amman ketika beliau hijrah dinegeri ini pada permulaan bulan Ramadhan, tahun 1400 H. Lalu beliau membangun rumah di Hayy Hamlan di Marka selatan. Beliau rajin berdakwah dan mendidik para pemuda dengan metode salaf.
Para murid beliau banyak mengarang yang sesuai dengan cara beliau mengarang kitab. Di antaranya: Syaikh Muh. Nasiib al-Rifa’i Rahimahullah, Syaikh Zuhair al-Syawisy, Syaikh Muh. Ibrahim Syaqrah, Syaikh Muh ‘iid Abbasi, Syaikh Muqbil al-Wadi’i dan lain-lain.
Beliau wafat pada hari Sabtu tepatnya tanggal 22 Jumadil Akhir tahun 1420 H atau 1999 M. Beliau di makamkan di hari itu juga setelah sholat Isya’. Makam beliau berdekatan dengan rumahnya yang berda di Hayy Hamlan/marka selatan. Muh. Ibrahim Syaqrah, Murid beliau ini yang mensholati dan yang mengiringi jenazah beliau ini kira-kira 500 orang ada yang mengatakan 1000 orang dan juga ada yang mengatakan lebih dari itu. Dan ini banyak juga masyarakat yang tidak datang dalam mengiringi jenazah beliau karena berita tentang kewafatan beliau ini tidak tersebar melainkan setelah beliau di Makamkan.
Mengenai sumber-sumber biografi beliau ini, banyak sekali khususnya di Kitab Ulama' wa Mufakkiruun 'Ariftuhum karya Muh.al-Majdub, dan kitab yang khusus tentang biografi beliau, pengaruh intelektual dan pujian ulama' kepada beliau yaitu kitab yang berjudul hayatul albani wa atsaruhu wa tsanaul Ulama' 2 jilid karya Muh. bin Ibrahim al-Syaibani.
B. Muqaddimah Penerbit
Salah satu murid beliau yang bernama Zuhair al-Syawisy yang juga sebagai penerbit karya beliau menjelaskan bahwa karya beliau ini tiap jilid berisi 500 hadits.
Dari kumpulan-kumpulan hadits dhaif ini, guna mengetahui mana hadits yang shoheh, dhaif, dan mawdhu'.
Karya beliau ini bertujuan untuk meluruskan akidah, memperbaharui akal dari yang berbahaya berupa takhayul, bid'ah kejumudan, dan kelemahan.
C. Muqaddimah Mushannif Jilid I
Sesungguhnya aku memulai sejak beberapa tahun dalam menyebarkan persambungan makalah yang berturut-turut dengan judul "al-Ahaditsudh dhaifah wal mawdhu'ah wa atsaruha al-Sayyi' fil Ummati" di majalah al-Tamaddun al-Islami al-Ghira' (Peradaban Islam al-Ghira') dan saya tidak henti-hentinya selalu menyebarkannya karena hadits-hadits dhoif dan mawdhu' ini banyak sekali. sedih sekali sekiranya hadits-hadits yang seperti ini dihitung-hitung ratusan bahkan ribuan! Bagaimana satu orang laki-laki zanadiqah memalsukan hadits kira-kira 4 ribu hadits! bahkan 10 ribu hadits. Bagaimana pembaca yang budiman mengatakan bahwa ada hadits-hadits yang lain yang telah dipalsukan oleh segolongan orang karena tujuan yang berbeda-beda. Diantaranya, ada yang karena politik, fanatik golongan, menganut madzhab-madzhab dan juga ada yang bertujuan Taqarrub ila llah menurut praduga mereka sendiri dan juga adanya hadits-hadits palsu karena kesalahan yang tidak disengaja dari sebagian orang-orang yang lalai. di antaranya golongan sufi, orang-orang yang lemah hafalan dari fuqaha' dan yang selainnya yakni dari orang yang tidak memiliki keilmuan hadits dan kuat hafalan.
Adapun hadits-hadits dhaif atau yang lain ini, banyak tersebar di kitab-kitab fiqih, tafsir, nasehat, al-Targhib wat tarhib dan lain-lain. Akan tetapi Allah SWT telah menugaskan sekelompok orang dari para Imam ahli hadits untuk menjelaskan kedhaifannya hadits, membuka celaan-celaan dari hadits dhaif, menjelaskan sisi atau letak kemawdhu'annya. Hal yang demikian itu, sebagaimana apa yang dikatakan oleh Imam Abdullah bin al-Mubarak dengan sebuah pertanyaan, "Apakah hadits-hadits ini dibuat-buat? beliau menjawab, para kritikus hadits hidupkan. Ibnu al-Jauzi berkata: Apabila salah seorang ingin menjelaskan al-Qur'an yang tidak ada keterangan di dalamnya maka orang-orang tersebut akan mengambil hadits-hadits Nabi lalu mencoba menambah-nambahi hadits-hadits nabi yang tidak pernah nabi mengatakannya. Dari hal seperti itu, maka Allah menurunkan para ulama' ahli krtik hadits tentang pengutipan hadits-hadits yang dibuat-buat tersebut. lalu ulama' tersebut menjelaskan bahwa hadits ini shohih atau dhaif dan allah tidak melepaskan ulama' ahli kritik hadits ini dari masa kemasa kecuali ulama' yang seperti ini sangat sedikit di masa sekarang ini. Maka ulama' ini lebih mulia dari pada binatang yang berkepala dan bersayap (garuda).
Lalu Muh. Nashiruddim al-albani berkata: apabila hal yang demikian itu di Masa Ibnu al-Jauzi, lalu berapa banyak jumlahnya ulama' ahli kritik hadits di masa sekarang ini..? lalu beliau menjawab:"aku tidak ragu bahwa ulama' seperti itu lebih sedikit dari apa yang sedikit." Dari hal inilah, yang menguatkan kami dan menjadikan keharusan kami untuk terus menerus menyebarkan kumpulan-kumpulan hadits dhoif dan mawdhu' guna masyarakat luas hati-hati atau mewaspadai hadits-hadits tersebut dan juga guna menegakkan kewajiban menjelaskan ilmu dan agar selamat dari dosa menyimpan ilmu, dan saya tidak ragu-ragu kepada orang yang ahli ilmu dari orang yang tidak melampaui akal mereka pada suatu keinginan dalam mempertimbangkan hadits-hadits dhaif tersebut, menurut standar kebenaran dirinya sendiri dan juga guna menolong pembersihan hadits Rasulullah yang tak berasal dari beliau, bagaimana tidak, Imam Abdur Rahman bin Mahdi berkata: "sungguh, aku mengetahui illatnya hadits lebih aku senangi dari pada menulis hadits yang tidak aku ketahui illatnya hadits."
Dari pernyataan di atas itulah, bahwa kitab yang saya susun ini, tidak berdasarkan taklid kepada seseorang yang menjadi sumber aku dalam menghukumi hadits-hadits dikitab ini. Akan tetapi aku mengikuti kaidah-kaidah ilmiah yang telah disusun oleh ulama' ahli hadits.
D. Muqaddimah Mushannif Jilid II
Dalam Muqaddimahnya, di Kitab jilid dua dijelaskan, sungguh aku berharap melalui kitab silsilatudh dhoifah dan saudaranya "silsilatul Ahaditsish Shahihah hendaknya aku termasuk persekutuan dalam menegakkan kewajiban "al-Tashfiyah/pembersihan". Tentang al-Tashfiyah ini beliau pernah ceramah di Ma'had al-Syar'i di Amman tahun 1393 H, dengan tema "al-Tashfiyah wa al-Tarbiyah" pada waktu itu saya merasa berkewajiban pada Islam untuk menegakkan kewajiban kedua hal tersebut. Yang kumaksudkan pembersihan dari kedua hal itu di antaranya:
pertama, pembersihan akidah Islamiyah dari segala apa yang asing/jauh dari akidah Islam. Seperti: syirik, mengingkari sifat-sifat ilahiyah, dan penakwilannya, menolak hadits-hadits yang shaheh karena berkaitan dengan akidah dan semisalnya.
Kedua, Pembersihan fiqih Islam dari ijtidad-ijtihad kotor yang berseberangan dengan al-Qur'an dan al-Sunnah
.
Ketiga, Pembersihan kitab-kitab tafsir dan fiqih dan hadits-hadits dhaif dan mawdhu', dan cerita-cerita israiliyat yang munkar yang begitu halus dan hal-hal inilah yang akan saya terangkan di kitab silsilah ini dan yang semisalnya seperti kitab Dhaif Abu Dawud, dan Dhaif al-Jami' al-Shaghir. Dan telah sempurna penerbitan kitab-kitab ini. dan al-Hamdulillah yaitu kitab Dhaif al-Targhib wa al-Tarhib, dalam waku dekat akan kami terbitkan bi idznillah.
Adapun kewajiban yang lain, saya ingin mendidik generasi pemuda pada agama Islam yang bersih, dari tiap-tiap apa yang sudah kami sebutkan di atas. Yakni Tarbiyah Islamiyah yang benar sejak halusnya kuku-kuku yang tanpa terpengaruh oleh pendidikan Barat yang kafir.
Sesungguhnya kitab silsilah ini dan yang selainnya dari apa yang sudah saya isyaratkan tadi, guna membantumu wahai Saudara Islam kepada batasan yang besar atas pembersihan akalmu, akidahmu, dari hadits-hadits dhaif dan Mawdhu' dan yang demikian itu untuk mempersiapkan jiwamu untuk menghadapi apa yang kamu temui dari hadits0hadits yang lain (Hadits-hadits Shahih) dan tempatkanlah hadits-hadits shahih itu di hatimu, tempatkanlah ia ketempat yang lunak yakni menerimanya dan mengamalkannya, ketika itulah kamu membersihkan jiwamu, dan menyinari hatimu, dan kamu selamat dari penyakit-penyakit yang samar yang dapat menyakitkanmu. karena adanya hadits-hadits yang lemah yang bersambungan dengan hadits-hadits shahih selamanya ia membenarkan dengan takhayul-takhayul, kebohongan-kebohongan dan kebatilan-kebatilan lebih-lebih tentang hukum dan pemikiran yang rancu.
Wajib bagi kamu hal yang demikian itu, untuk selalu minta pertongan dengan mendidik jiwamu dan orang yang berlindung kepadamu, tarbiyah islamiyah yang benar, tidak ketimuran dan tidak kebaratan, dan meluruskannya dengan akhlak-akhlak yang sesuai tuntunan Rasulullah, karena hal yang demikian itu, memperbaiki hatimu, membahagiaanmu di dunia sebelum akherat, dan tidaklah suatu hal, itu ilham yang menyuarakan pada hari itu untuk mengajak Islam, kecuali berdampak pada kebahagiaan apabila apa yang mereka ambil itu sesuai apa yang menjadi sebab kebahagiaan. Yakni terkumpul dalam dua kalimat "al-Tashfiyah wa al-Tarbiyah"
Tidak diragukan lagi, bahwa menyatakan dua kewajiban ini menuntut kesungguhan yang memaksa yang saling tolong menolong dari seluruh Umat Islam yang ikhlas.
E. Isi Kitab
Kitab ini berisi 7.162 hadits dhaif dan maudhu’. Tiap jilid rata-rata ada 500 hadits. Dan kitab ini jumlah jilidnya ada 14. Isi kitab ini, membahas hadits-hadits dhaif baik bidang akidah, fiqih, akhlak dan lain-lain.
F. Metode Penulisan
Syaikh Nashiruddin al-Albani dalam mengarang kitab ini, tidak berdasarkan al-Fabetis sebagaimana di Kitab beliau yang lain seperti di Kitab al-Jami’ al-Shahih atau al-Dhoif .
Di Kitab beliau ini, metode yang digunakan dalam menjelaskan hadits dhaif di antaranya: beliau mendasarkan pada kitab-kitab atau pendapat-pendapat menurut ahli hadits. Beliau sangat teliti sekali dalam menentukan illat suatu hadits dibuktikan dengan banyaknya literatur yang dibuat beliau dalam mendiagnosis hadits dhaif tersebut. Dan juga beliau mendasarkan pada kitab Rijalul Hadits, karena beliau dalam menentukan dhaif tidaknya suatu hadits beliau cukup melihat sanad dari sebuah hadits.
Bab II
Kesimpulan
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa salah satu tujuan beliau mengarang kitabnya ini ada dua tujuan. Pertama al-Tashfiyah (Pembersihan). Hal ini meliputi 3 hal. pertama, pembersihan akidah Islamiyah dari segala apa yang asing/jauh dari akidah Islam. Seperti: syirik, mengingkari sifat-sifat ilahiyah, dan penakwilannya, menolak hadits-hadits yang shaheh karena berkaitan dengan akidah dan semisalnya. Kedua, Pembersihan fiqih Islam dari ijtidad-ijtihad kotor yang berseberangan dengan al-Qur'an dan al-Sunnah. Ketiga, Pembersihan kitab-kitab tafsir dan fiqih dan hadits-hadits dhaif dan mawdhu', dan cerita-cerita israiliyat yang munkar yang begitu halus. Sedangkan tujuan yang lain, al-Tarbiyah yakni Tarbiyah Islamiyah yang benar sejak halusnya kuku-kuku, yakni pendidikan yang tidak dipengaruhi oleh pendidikan Barat yang kafir. Wallahu ‘A’lam.
Daftar Pustaka
- al-Qazwaini, Abi Abdillah Muh. Bin Yazid Ibnu majah. Sunan Ibnu Majah. Libanon : Baitul Afkar al-Dauliyyah, 2004.
- al-Albani, Muh. Nashiruddin. Silsilatul Ahaditsidh Dha’ifah wal Mawdhu’ah wa Atsaruha al-Sayyiu fi Ummat, al-Majallad I. Beirut : al-Maktab al-Islami, 1985.
- al-Albani, Muh. Nashiruddin. Silsilatul Ahaditsidh Dha’ifah wal Mawdhu’ah wa Atsaruha al-Sayyiu fi Ummat, al-Majallad II. Beirut : al-Maktab al-Islami, 1985.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya