AL-QIYADAH AL-ISLAMIYA
Pendahuluan
Dalam ideologi syi’ah, Imamah yang terakhir, yakni Imam Mahdi dijanjikan akan datang pada akhir zaman, yang bertujuan untuk melawan Hegemoni Dajjal, kemudian disusul oleh turunnya Nabi Isa As yang mengemban tugas dari Allah S.W.T untuk mempersatukan Aqidah (keyakinan teologis) ummat manusia. Begitu juga dengan ideologi Sunni. Bahkan jawa-pun memiliki keyakinan tentang Ratu Adil atau lebih dikenal dengan Satrio pininggit yang akan mengubah zaman kalabendu (zaman Edan) menjadi zaman kalasuka (zaman keemasan).Pendahuluan
Sepanjang sejarah perkembangan islam dari masa kemasa, terdapat banyak aliran dalam islam yang diklaim “sesat”. Seperti yang terjadi di indonesia akhir-akhir ini. Yakni Ahmadiyah, Al- Qur’an suci, Al- Qiyadah, Sholat dua bahasa di malang, dan lain sebagainya.
Hal ini sebagai bukti, bahwasanya Islam seolah-olah akan terus berevolusi. Meskipun penyampai risalah (Muhammad S.AW) sebagai khotimul anbiya’ (penutup para nabi) telah tiada. Namun berawal dari keyakinan Mahdisme, dan akan diturunkanya Nabi Isa As sebagai Mesiah, tidak jarang pula ada seseorang mengklaim dirinya sendiri sebagai imam mahdi. Bahkan mesiah itu sendiri. Makalah di bawah ini akan membahas salah satu dari berbagai aliran yang muncul di Indonesia akhir-akhir ini, yakni al-Qiyadah al-Islamiyah.
Pembahasan
Sejarah Kemunculan aliran al-Qiyadah
Al-Qiyadah merupakan salah satu aliran yang dianggap sesat dan paling banyak disoroti oleh berbagai kalangan masyarakat. Selain karena ajarannya yang kontrversial, pengikutnya juga terbilang banyak dan hampir merata di seluruh Indonesia seperti di Padang, Yogyakarta, Gresik, Jakarta, dan daerah Jawa Barat . Aliran ini biasanya melakukan pendekatan kepada Mahasiswa dan para pemuda dengan melalui pengajian-pengajian Al-Quran.Sejarah Kemunculan aliran al-Qiyadah
Al-Qiyadah al-islamiyah didirikan oleh Ahmad Moshaddeq, seorang pensiunan pegawai Negeri Sipil (PNS) pemerintah DKI Jakarta dan mantan pengurus persatuan bulu tangkis Indonesia (PBSI), pada tanggal 23 Juli 2006. Berbeda dengan kebanyakan pimpinan agama yang memelihara jenggot, moshaddeq tidak memelihara jenggot. Ia hanya memakai kopiyah dan kemeja biasa dengan kumis yang tumbuh di kanan-kiri mulutnya.
Sebagai pendiri aliran ini, Moshaddeq juga mengaku telah mendapatkan wahyu untuk menjadi rosul baru di abad ke-21. Ia percaya, setelah selama 40 hari dan 40 malam bertapa di sebuah gua, di gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat, Allah menunjuknya untuk menjadi Al-Masih Al-Mau’ud. Selama tiga hari berturut-turut, ia bermimpi mendapatkan wahyu dari Allah.
Meskipun mengaku berlandaskan agama islam, aliran ini justru memunculkan doktrin baru yang menyimpang dari syariat agama islam. Aliran baru ini mempunyai syahadat baru pula yang berbunyi, “Asyhadu alla ilaha illa Allah wa asyhadu anna Masih Al-mau’ud Rasul Allah” (saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Masih al-Mau’ud sebagai Rasul Allah). Selain memiliki syahadat baru, dimana setiap pengikutnya diminta beriman pada masih al-Mau’ud dan menganggap orang yang tidak beriman kepadanya kafir, al-Qiyadah juga tidak mewajibkan Sholat lima waktu, puasa, membayar zakat dan naik haji dengan dalih ia masih dalam periode Makkah.
Memiliki 40 ribu pengikut
Tak jelas apa motif dari pendirian aliran ini. Apakah benar mereka meyakini Ahmad Moshaddeq atau yang sering dipanggil Haji Salam ini sebagai pengganti Nabi Muhammad Saw. Ataukah ada motif tersembunyi lainnya. Bebrapa spekulasi mungkin mengaitkan pendirian Al-Qiyadah al-Islamiyah dengan asal usul Moshaddeq yang pernah mengaku menjadi anggota Negara Islam Indonesia (NII) selama sepuluh tahun.
Namun yang paling mengejutkan dari aliran baru tahun 2006 ini adalah gembar-gembor pendirinya bahwa di Indonesia mereka telah memiliki 40 ribu pengikut. Tentu saja klaim ini tidak dapat dipercaya mentah-mentah. Meski demikian, kepala Badan Intelejen Indonesia (BIN) Syamsir siregar memperkirakan bahwa di Indonesia ini ada sekitar delapan ribu penganut paham al-Qiyadah. Bila perkiraan ini benar, berarti dalam kurun waktu satu tahun aliran ini telah sukses melebarkan sayapnya dan meraih simpati dari banyak orang. Bukan tidak mungkin, mencapai jumlah ribuan mengingat dakwahnya yang sering dihadiri ribuan orang di kota-kota besar di Indoneisia.
Menolak Hadist Nabi
Terbongkarnya praktik aliran ini terbukti ketika ditemukannya kitab-kitab yang menjadi pegangan bagi pemeluknya. Dari kitab-kitab tersebut dapat ditelusuri ajaran-ajaran yang berlaku dalam aliran ini. Salah satu buku pegangan al-Qiyadah adalah buku tafsir al-Quran yang yang dsebut Tafsir wa Takwil, yang telah diterjemah secara bebas. Selain itu ada buku ala al-Qiyadah berjudul Ruh Kudus yang Turun kepada al-Masih al-Mau’ud. Melalui buku-buku tersebut, disimpulkan oleh MUI bahwa aliran ini menolak sunnatullah atau hadist nabi dan kenabian Nabi Muhammad Saw.
Sedangkan para pengikut al-Qiyadah sendiri menyatakan tidak menolak kenabian Nabi Muhammad karena mereka menganggap bahwa kenabiannya berakhir sejak ia meninggal dan hadistnyapun di riwayatkan 320 tahun kemudian setelah nabi Muhammad wafat. Dan untuk menggantikan kenbian Nabi Muhammad mereka mengangkat al-Masih al-Mau’ud, yang tak lain adalah Ahmad Moshaddeq, sebagai Nabi pengganti.
Umat Islam selain pengikut aliran ini dianggap musyrik dan wajib diperangi. Ketua komisi Fatwa MUI Sumatewra Barat, Buya H. Guzrizal Gazahar menyatakan telah terjadi penyimpangan dalam penafsiran al-Quran yang tercermin dalam buku-buku milik al-Qiyadah. Ajaran yang mencampur adukkan antara ajaran Islam dan ajaran Yesus Kristus sebagaimana dipercaya oleh pengikut injil. Buku-buku karangan pimpinan tertinggi al-Qiyadah antara lain berjudul Al Masih Al Mau’ud & Ruhul Kudus; Menyingkap tabir: Pemisahan Yesus Kristus dari Sejarah; serta Keutamaan Enam Program Pengabdian: Sistem Kehidupan Abraham. Lucunya, kedua buku tersebut bernuansa nasrani bukan islami.
Aliran ini juga mengenal penebusan dosa dengan menyerahkan sejumlah uang kepada al-Masih al-Mau’ud. Dan yang agak nyelenih, ditemukannya foto atau gambar manipulasi yang memperlihatkan Moshaddeq memakai sayap layaknya dewa-dewa yunani.
Banyaknya aliran-aliran islam yang mengkultuskan Islam, namun ajaranya tidak sesuai dengan Rukun Islam yang lima, yakni: Syahadatain (dua kalimat sahadat), sholat, (sholat yang telah diajarkan Muhammad Saw), zakat, puasa, dan haji ke Baitullah jika mampu . Dan rukun Iman, yakni: Percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, percaya kepada kitab-kitab Samawi, percaya kepada Rosul-rosul-Nya, percaya kepada hari Akhir (kiamat), serta percaya kepada Qadha’ dan qhadar , mengundang MUI untuk angkat bicara dan menyesatkan aliran-aliran islam yang banyak bermunculan di indonesia. Seperti al-Qiyadah Al-Islamiyah di atas. Begitu juga aliran al-Qur’an suci, dan aliran Ahmadiyah yang sama-sama mempunyai Nabi baru yang mempunyai peranan sebagai Messenger of god dan memiliki al-quran dan hadist-hadist sendiri.
Pada prinsipnya, memang agama islam merupakan agama yang mempunyai toleransi yang tinggi terhadap agama-agama lain. Hal ini terbukti bahwa islam adalah satu-satunya agama yang mengalami kontak langsung dengan hampir semua agama mayoritas yang ada. Islam telah berhadapan dengan agama yahudi dan nasrani di tempat kelahiran islam sendiri di Arab dan setelah itu, di Palestina, Suriah dan Mesir . Namun dalam menghadapi aliran-aliran dalam islam yang sudah melenceng jauh dari ajaranya tidak dipandang dari sisi toleransi agama, tetapi lebih dipandang dari sisi pencemaran nama baik agama. Sehingga harus diadakan pelurusan ajaran kembali.
Kesimpulan
Setiap bentuk aliran dalam Islam pasti mempunyai sisi kelebihan di samping pasti ada sisi kekuranganya. Jadi tidak di benarkan bahwa suatu golongan atau kelompok tertentu mengklaim dirinya sebagai kelompok yang paling benar dan menuduh kelompok lainya sebagai kelompok yang sesat tanpa adanya bukti-bukti yang jelas dan akurat..Penulis sangat tertarik terhadap pernyataan Sayyed Hossein Nasr yang menyatakan bahwa selama suatu kelompok atau golongan berpegang teguh terhadap rukun islam dan rukun iman, maka kelompok atau golongan tersebut tidak dapat dikatakan keluar dari islam. Sebaliknya, suatu kelompok atau golongan yang telah menambah atau mengurangi rukun islam dan rukun iman di anggap keluar dari agama Islam. Pernyataan tersebut mungkin merupakan hasil refleksi yang dalam dari suatu peristiwa ketika Malaikat Jibril dengan berbusana putih mendatangi Rosulullah kemudian mengajarkan arti dari islam, iman, dan ihsan kepada para sahabat melalui percakapanya dengan Rosulullah.
Daftar pustaka
Jalidu, Maulana Ahmad. 2008, Aliran Sesat dan Nabi-nabi Palsu: Narasi
Nasr, Sayyed Hossein. 2003, The heart of Islam. Bandung: Mizan
Nasr, Sayyed Hossein. 2003, Islam: Agama, Sejarah dan Peradaban. Surabaya: Risalah Gusti
Hassan, Ibrahim Hassan. 1997, Sejarah dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang
Nasution, Harun. 2002, Islam ditinjau dari Berbagai Aspek, jilid I dan II. Jakarta:UI-Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya