SELAMAT DATANG DI SITUS RESMI ALI FARHAN

Jumat, 20 November 2009

AQSAM AL-QURAN

AQSAM AL-QURAN
Oleh. Farhan UIN yogya

Pendahuluan

Ilmu Aqsam Al-Qur’an merupakan salah satu bagian dari ’Ulumul Qur’an. Ilmu ini sangat membantu kita dalam memahami Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat faedah-faedah dan hikmah yang berguna bagi manusia kapan dan dimanapun. Al-Quran mempunyai metode yang sangat unik dalam penyampaian ajaran-ajaran yang tersimpan di dalamnya. Sesuai dengan fitrahnya bahwa keimanan manusia pada suatu saat bisa bertambah dan di saat yang lain bisa pula berkurang (Yazidu wa yankusu). Ketika keimanan kita sedang ada dalam taraf yang bagus, maka kita cukup membaca ayat-ayat yang bersifat informatif dan biasa-biasa saja. Hati kita akan mudah tersentuh dan lunak pada pesan-pesan yang disampaikan al-Quran. Namun di saat keimanan manusia menurun dan berada dalam titik terendah, maka membutuhkan peringatan yang bersifat mengukuhkan sehingga keraguan-keraguan dalam hati menjadi hilang dan keimanan kita kembali seperti biasanya dan bahkan bertambah.
Qasam (sumpah) dalam pembahasan ini termasuk salah satu uslub pengukuhan kalimat yang diselingi dengan bukti konkrit dan dapat menyadarkan lawan bicaranya untuk mengakui apa yang diragukan dan yang diingkarinya.Dalam makalah ini kami akan membahas tentang definisi, macam-macam aqsam, unsur-unsur dan faedah-faedah yang terdapat di dalamnya. Semoga bermanfaat


1. pengertian Aqsam al-Quran

Aqsam adalah bentuk jamak dari qasam yang berarti al-hilf dan al-yamin, yakni sumpah. Qasam dan Yamin adalah dua kata sinonim, yang mempunyai makna sama. Qasam didefinisikan sebagai “mengikat jiwa (hati) agar tidak melakukan sesuatu atau melakukan sesuatu, dengan suatu makna yang dianggap agung, besar, baik secara hakiki maupun secara i’tiqadi, oleh orang yang bersumpah itu.” Bersumpah dinamakan juga dengan yamin (tangan kanan), karena orang Arab ketika bersumpah memegang tangan kanan sahabatnya. Shigat asli qasam ialah fi’il atau kata kerja “aqsama” atau ahlafa yang di-muta’addi(transitif) kan dengan “ba” untuk sampai kepada muqsam bih (sesuatu yang digunakan untuk bersumpah), lalu disusul dengan muqsam ‘alaih (sesuatu yang karenanya sumpah diucapkan) yang dinamakan dengan jawab qasam. Misalnya firman Allah:


”Mereka bersumpah dengan nama Allah, dengan sumpah yang sungguh-sungguh, bahwasanya Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.” Dengan demikian ada 3 unsur dalam shigat qasam yaitu fi’il yang ditransitifkan dengan ba, muqsam bih, dan muqsam ‘alaih.

2. Macam-macam Qasam

1. Zahir (eksplisit)
Yaitu yang disebutkan fi’il qasam dan muqsam bihnya. Ada pula yang dibuang fi’il qasam karena dicukupi dengan huruf ba’, wawu, atau ta’, dan kadang-kadang dimasukkan pula ”la nafiyah” kepada fi’il qasam seperti firman Allah (75: 1-2)

Dikatakan La di dua tempat ini adalah La nafy yang berarti ”tidak”, untuk menafikan sesuatu yang tidak disebutkan yang sesuai dengan konteks sumpah. Dan taqdir (perkiraan arti)-nya adalah: ”Tidak benar apa yang kamu sangka, bahwa hisab dan siksa itu tidak ada.” Kemudian baru dilanjutkan dengan kalimat berikutnya: ”Aku bersumpah dengan hari kiamat dan dengan nafsu lawwamah, bahwa kamu kelak akan dibangkitkan.” Dikatakan pula bahwa La tersebut untuk menafikan qasam, seakan-akan Ia mengatakan: ”Aku tidak bersumpah kepadamu dengan hari itu dan nafsu itu. Akan tetapi Aku bertanya kepadamu tanpa sumpah, apakah kamu mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang belulangmu setelah hancur berantakan karena kematian? Sungguh masalahnya teramat jelas, sehingga tidak lagi memerlukan sumpah.” Tetapi dikatakan pula, La tersebut Zaidah (tambahan). Pernyataan jawab qasam dalam ayat di atas tidak disebutkan tetapi telah ditunjukkan oleh oleh perkataan sesudahnya, ”Apakah manusia mengira....” (al-Qiyamah : 3) Taqdirnya ialah ”Sungguh kamu akan dibangkitkan dan akan dihisab.”


2. Mudmar (implisit)
Yaitu yang tidak disebut fi’il qasam dan muqsam bihnya. Tetapi ia ditunjukkan oleh lam taukid yang masuk ke dalam jawab qasam, seperti firman Allah:
    
(Kamu sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu) (Ali ’Imran: 186). Maksudnya, Demi Allah, kamu sungguh- sungguh akan diuji terhadap hartamu....


3. Unsur-unsur dalam Qasam
Qasam dalam al-Quran setidaknya terdiri dari dua unsur. Pertama adalah muqsam bih. Muqsam bih adalah sesuatu hal yang digunakan untuk bersumpah. Adakalanya Allah bersumpah dalam al-Quran dengan Dzatnya yang maha kudus dan mempunyai sifat-sifat yang maha agung. Seperti dalam surat at-Taghabun ayat 7
            •       
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Memang, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, Kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan." yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Qasam dalam bentuk ini dapat kita temui dalam al-Quran di tujuh tempat , yaitu dalam surat yang telah tersebut di atas dan selanjutnya dalam (QS as-Saba’:3), (QS Yunus: 53), (QS Maryam: 68), (QS Al-Hijr: 92), (an-Nisa: 65), (al-Ma’arij: 60). Selain yang disebutkan di atas, Allah bersumpah dengan tanda-tanda kebesaran-Nya yang memantapkan eksistensi dan sifat-sifatnya. Dan sumpahnya dengan sebagian makhluk ciptaannya dalah bukti bahwa makhluk itu termasuk dari ayat-ayat-Nya yang besar. Sumpah dengan makhluk-Nya adalah yang paling banyak terdapat dalam al-Quran dan sering kita temui dalam surat-surat pendek al-Quran. Misalnya di awal surat al-Lail, ad-Dhuha, as-Syam, al-Asr, at-Tiin, al-Buruj, dan lain sebagainya.
Unsur yang kedua dari qasam dalam al-Quran adalah muqsam alaih. Muqsam alaih adalah jawab qasam atau suatu pernyataan yang karenanya qasam diucapkan. Oleh karena itu, muqsam alaih haruslah hal yang layak didatangkan qasam baginya. Seperti hal-hal gaib dan tersembunyi jika qasam itu dimaksudkan untuk menetapkan keberadaannya. Jawab qasam pada umumnya disebutkan. Namun terkadang ada juga yang dihilangkan. Seperti:

                  
Demi fajar. Dan malam yang sepuluh. Dan yang genap dan yang ganjil. Dan malam bila berlalu.. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal. Yang dimaksud dengan qasam di sisni adalah, waktu yang mengandung amal-amal seperti ini pantas untuk dijadikan oleh Allah sebagai muqsam bih, sehingga tidak memerlukakn jawaban lagi. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa jawabannya dibuang, yaitu lafadz Latuadzdzabunna “Kamu pasti akan di azab”. Da juga juga yang berpendapat bahwa jawab qasam ayat di atas terdapat pada ayat bselanjutnya pada lafadz:
•   
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. Namun kebanyakan ulama menyatakan bahwa qasam di atas tidak memerlukan jawaban. Dalam ayat lain jawaban qasam ditiadakan karena alasan sudah di sebutkan dalam ayat berikutnya seperti dalam surat al-Qiyamah ayat 1-2, yang telah dijelaskan di atas.


4. Tujuan qasam dalam al-Quran
Kesiapan jiwa manusia dalam menerima dan tunduk kepada cahanya hidayah berbeda-beda. Jiwa yang jernih yang fitrahnya tidak ternoda kejahatan akan segera menyambut petunjuk dan membukakan pintu hati dan berusaha mengikutinya meski berita itu sampai kepadanya hanya sepintas saja. Sedang jiwa yang ditutupi awan kejahilan dan diliputi gelapnya kebatilan tidak akan tergoncang hatinya kecuali dengan pukulan peringatan dan bentuk kalimat yang kuat dan kokoh. Sehingga dengan demikian barulah tergoncang keingkarannya itu.
Dengan konteks seperti ini, al-Quran, dengan keistimewaan yang berupa kelembutan ungkapan dan beranika ragam uslubnya yang sesuai dengan berbagai tujuan, mempunyai metode-metode tersendiri dalam menyampaikan ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya. Lawan bicara (makhaatab) mempunyai keadaan yang berbeda-beda yang dalam ilmu ma’ani di sebut dengan Udlrub al-khabar as-salasah atau tiga macam pola penggunaan kalimat berita. Antara lain adalah ibtidai, thalabi, dan inkari. Mukhatab yang tidak tahu sama sekali apa yang akan diterangkan maka tidak mememerlukan penta’kidan. Pembicaraan yang disebutkan kepadanya dinamakan ibtida-i.
Ada juga orang yang apabila disampaikan berita kepadanya, ia ragu-ragu. Maka perkataan untuk orang semacam ini sebaiknya diperkuat dengan satu penguat guna menghilangkan keraguannya. Perkataan demikian dinamakan dengan talabi. Dan terkadang ia ingkar atas pernyataan yang disampaikan kepadanya. Maka pembicaraan untuknya harus disertai dengan penegasan yang sesuai dengan kadar keingkarannya, kuat atau lemah. Pembicaraan demikian dinamakan inkari.
Jadi tujuan qasam adalah untuk mengukuhkan dan mewujudkan muqsam alaih (jawaban qasam, pernyataan yang karenanya qasam diucapkan) bahwa muqsam alaih tersebut adalah benar-benar suatu yang hak atau agung keberadaanya. Adakalanya Allah bersumpah untuk menetapkan pokok-pokok keimanan yang wajib diketahui makhluk, kadang menegaskan bahwa al-Quran itu hak, dan meneguhkan ancaman-ancaman-Nya bagi siapa saja yang ingkar kepadanya.

Kesimpulan

Dari keterangan di atas, dapat kami simpulkan bahwa qasam merupakan salah satu penguat perkataan yang masyhur untuk menetapkan dan memperkuat kebenaran sesuatu dalam jiwa. Al-Quran al-karim diturunkan kepada semua manusia, dam manusia mempunyai sikap yang bermacam-macam terhadapnya. Diantaranya ada yang meragukan, ada yang mengingkari dan ada pula yang mememusuhi. Oleh karena itu, dipakailah qasam dalam kalamullah, guna menghilangkan keraguan, melenyapkan kesalahpahaman, menegakkan hujjah, menguatkan khabar dan menetapkan hukum dengan cara yang paling sempurna.
Pelajaran tentang qasam sangatlah penting bagi semua masayarakat islam. Karena hubungannya dengan keseharian muslim itu sendiri, yakni keimanan yang bisa bertambah dan berkurang. Diharapkan dengan memahami qasam dalam al-Quran keimanan dalam hati kita tetap stabil. Semoga…!



Daftar Pustaka

Hamzah, mochotob. 2003, Studi Al-Quran Komprehensif: Gama Media
Qattan, Manna’ Khalil. 2007, Studi Ilmu-ilmu Quran, terj: Litera Antarnusa
Ash-Shiddieqi, Hasbi. 1972, Ilmu-ilmu al-Quran: Bulan bintang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

semoga Allah selalu melimpahkan rahmatnya

Selamat datang..

Selamat datang..